Powered By Blogger

Senin, 05 Oktober 2009

Pesimis = Syirik ?????

Diantara beberapa hal dari pemikiran-pemikiran takhayul (hal-hal yang tidak masuk akal) yang merusak dan tersebar dikalangan manusia adalah Tathayyur (yaitu sikap pesimisme disertai dengan rasa akan mendapatkan kesialan) yang disebabkan oleh beberapa hal tertentu. Hal-hal tersebut bisa berupa hari, manusia, nama-nama, burung, rumah, bulan-bulan tertentu dan lain sebagainya. Kepercayaan seperti ini tiada lain adalah sebuah bid’ah (hal yang baru) dan kotor dari berbagai macam bid’ah yang ada di dalam masalah aqidah.

Berikut akan kami jelaskan dalam lima (5) macam bagian pembahasan.

Pertama : Makna Tathayyur

Penjelasan tentang ma’na tathayyur yang berasal dari kata “ الطِيَرَةُ “ dengan huruf Tho’ (ط ) di kasroh dan Ya’ (ي ) di fathah, yang memiliki makna merasa pesimis (sial) terhadap sesuatu hal. Kata ini merupakan masdar (kata dasar) dari kata “َتطَيّرَ “.

Pada awalnya zaman dahulu kala bangsa Arab memiliki keyakinan (yaitu merasa sial) terhadap jenis burung tertentu seperti gagak, burung hantu, dan juga terhadap jenis hewan yang lain. Kemudian dimutlakkan kepada keumuman dari rasa pesimis (sial) yang disebabkan karena hal tertentu.

Kedua : Hukum tathayyur

Tentang hukum tathayur ditinjau dari sudut syar’i (syariat agama) telah disebutkan dalam hadits Nabi ` bahwasanya beliau ` bersabda :

(( لاَ عَدْوَى وَلاَ طَيْرَةَ وَلاَ هَامَةَ وَلاَ صَفَرَ وَلاَ غُوْلَ )) رَوَاهُ الْبُخَارِي وَمُسْلِمٌ وَزَادَهُ مُسْلِمٌ : (( وَلاَ نَوْءَ وَلاَغُوْلَ ))

“Tidak ada adwa, thiyarah, hamah, shafar, dan tidak ada ghul.” Dan ditambahkan dalam riwayat Muslim : “dan tidak ada nau’ dan tiada pula ghul “.

Yang dimaksud dengan:

  • Adwa : penjangkitan atau penularan penyakit. Maksud sabda Nabi ` disini adalah untuk menolak anggapan mereka ketika masih hidup dizaman Jahiliyah bahwa penyakit berjangkit atau menular dengan sendirinya tanpa kehendak dan takdir Allah ' . anggapan inilah yang ditolak oleh Rasulullah `.
  • Thiyarah : merasa bernasib sial atau meramal nasib buruk karena melihat burung, binatang lainnya, atau apa saja
  • Hamah : burung hantu, orang-orang jahiliyyah merasa bernasib sial dengan melihatnya. Apabila ada burung hantu yang hinggap diatas rumah salah seorang di antara mereka , dia akan merasa bahwa burung ini akan membawa berita kematian tentang diri sendiri atau salah satu anggota keluarganya.
  • Shafar : Bulan kedua tahun Hijriyyah, yaitu bulan setelah Muharam. Orang-orang jahiliyyah beranggapan bahwa bulan ini membawa nasib sial atau tidak menguntungkan. Yang demikian dinyatakan tidak ada oleh Rasulullah ` dan termasuk di dalam hal-hal yang dilarang di dalam Islam.
  • Nau’ : Bintang. Arti asalnya adalah terbit atau tenggelamnya suatu bintang. Orang-orang jahiliyyah menisbatkan hujan turun kepada bintang ini atau bintang itu. Maka Islam datang mengikis anggapan ini, bahwa tidak ada hujan turun karena suatu bintang tertentu akan tetapi semua itu adalah ketentuan dari Allah ' .
  • Ghul : Hantu (Gondoruwo), salah satu makhluq dari jenis jin. Mereka beranggapan bahwa hantu ini dengan perubahan bentuk maupun warnanya dapat menyesatkan seseorang dan mencelakakannya. Maksud sabda Nabi ` disini bukanlah tidak mengakui keberadaan makhluk seperti ini, tetapi menolak anggapan mereka yang tidak baik tersebut yang akibatnya takut kepada selain Allah serta tidak bertawakal kepada-Nya.

Thiyarah termasuk dalam kesyirikan berdasarkan pada sebuah hadits Nabi r :

(( مَنْ رَدَّتْهُ الطَّيْرَةُ عَنْ حَاجَتِهِ فَقَدْ أَشْرَكَ )) هُوَ حَدِيْثٌ صَحِيْحٌ أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ وَالطَّبْرَانِي

“Barang siapa yang mengurungkan niat (dari hajatnya) dengan sebab thiyarah, maka ia telah berbuat syirik” (H.S.R Ahmad dan Thabrani)

Hal tersebut dikarenakan tathayyur (rasa pesimis) dengan sebab melihat burung-burung, manusia atau dengan memasuki bulan tertentu dan yang selainnya dari hal tersebut yang kemudian diyakini bahwa semua hal tersebut di atas memiliki pengaruh yang jelek terhadap dirinya (tanpa kehendak Allah). Dan berkeyakinan bahwa segala sesuatu tersebut dikhususkan pada kesialan yang telah dtentukan.Ini adalah suatu keyakinan yang bathil dan tidak ada asalnya dalam syar’i (agama) bahkan menyelisihi syari'at.

Ketiga : Macam-macam Tathayyur

Macam-macam tathayyur yang terjadi dan tersebar pada zaman kita saat ini adalah suatu hal yang tidak jauh berbeda dengan yang ada dan terjadi pada umat yang sebelumnya.

Bentuk fenomena yang terjadi dalam masalah tathayyur di antaranya adalah merasa sial dengan burung gagak, dimana mereka meyakini bahwa burung tersebut membawa kesialan, memberikan peringatan dengan kehancuran, perpisahan dan kematian, apalagi jika burung tersebut bergaok (berbunyi) pada saat seseorang keluar dari rumahnya dan lain sebagainya.

Fenomena lain yang berkembang dimasyarakat di antaranya merasa sial dengan adanya burung hantu, serta memiliki keyakinan apabila burung tersebut bertengger pada sebuah rumah maka hal tersebut menunjukkan bahwa akan ada salah satu dari anggota keluarga (dari rumah tersebut) yang segera meninggal dunia.

Kemudian ada lagi yang bertathayyur dengan rumah tertentu yang rumah tersebut (menurut mereka) dapat mendatangkan kefaqiran, kehancuran, dan kesialan. Disisi lain ada yang bertathayyur dengan bulan-bulan tertentu seperti bulan Shafar, yang pada bulan ini diyakini oleh mereka dilipatgandakan berbagai cobaan dan ujian yang ada. Oleh karena itu mereka di bulan ini takut untuk melaksanakan berbagai macam kegiatan seperti pernikahan dan perjalanan jauh. Sebagian manusia lain bertathayyur dengan bulan Syawal atau Dzulqo’dah denag berkeyakinan bahwasanya bulan tersebut berada di antara dua(2) Ied (hari raya), atau berkeyakinan bahwa dibulan tersebut akan terjadi demikian…….demikian …….dan demikian…….

Di antara manusia yang lain (seperti di negara kita, pent) bertathayyur dengan bulan Muharam(dalam bulan Jawa dinamakan Sura, pent) dengan berkeyakinan bahwasanya di bulan tersebut terbunuh Husain t, sehingga pada bulan ini mereka tidak mau melaksanakan acara pernikahan dan lain sebagainya dari kebohongan-kebohongan yang mereka yakini dan tidak berguna.

Bentuk tathayyur yang lain yaitu merasa sial dengan keberadaan personal(pribadi seseorang) tertentu, dan menganggap bahwa orang tersebut membawa sial, bahwa dengan melihat atau bertemu dengannya dapat membawa kehancuran bagi dirinya. Terlebih lagi apabila orang tersebut bermata satu atau berpenyakit lepra dan sebagainya.

Adapula yang berpesimis dengan hari tertentu misalnya hari Rabu, dan yang lebih mengherankan lagi bahwa sebagian besar manusia memperbodoh dirinya dengan berpesimis di hari Jum'at, padahal hari Jum’at adalah sebaik-baik hari pada saat terbitnya matahari. Terlebih lagi barokah Allah sangat banyak pada hari ini. Demikian pula berpesimis dengan hari di dalam bulan yang dihitung menurut hitungan jari tengah seperti tiga, delapan, tiga belas, delapan belas, dua puluh tiga, dua puluh delapan, dan lain-lain. Yang termasuk dalam hal ini pula berpesimis dengan nomor tertentu seperti 13, tidak melakukan safar(berpergian jauh), tidak membeli sesuatu pada hari ini, tidak mau menempati rumah yang memiliki nomor 13, tidak mau melakukan kegiatan yang berhubungan dengan nomor 13, baik hal tersebut untuk jangka waktu yang pendek atau untuk jangka waktu yang pannjang. Hal ini tidak diragukan lagi adalah kepercayaan dan aqidah orang-orang nashrani yang rusak, dimana kesemuanya itu berhubungan dengan kejadian penyaliban yang masyhur dikalangan mereka.

Ada pula berpesimis terhadap nama-nama tertentu, dan yang menunjukkan betapa lemah akal dan pikiran manusia yang berpesimis pada nama-nama yang memiliki keutamaan seperti 'Umar, 'Utsman, Ali dan seterusnya. Mereka tidak memberikan nama dengan nama-nama tersebut tadi dan tidak merasa gembira apabila bertemu dengan seorang yang memiliki nama tersebut tadi. Hal ini tidak lain adalah seperti aqidah yang dimiliki oleh Ar Rawafidh(kelompok yang bersikap ghuluw kepada ahlul bait)dan orang-orang Nawashib (lawan rawafidh).

Beberapa dari kalangan manusia ada yang bertasyaum pada tempat-tempat, arah tertentu juga warna-warna tertentu seperti hitam, mereka berkeyakinan bahwa warna tersebut mengisyaratkan pada lambang kematian . Dan lain sebagainya dari bentuk-bentuk rasa pesimis yang dimiliki oleh manusia dan tersebar dikalangan mereka, yang hal tersebut menunjukkan akan jauhnya mereka hakekat iman yang sebenarnya, jauh dari cahaya keyakinan yang benar, jauh dari ilmu yang bermanfaat, yang disebabkan kebodohan dan hawa nafsu yang meliputi diri-diri mereka.

Yang keempat : Dalil-dalil dalam bab ini, terbagi menjadi dua macam

1. Dalil yang menafikan tathayyur dan tasyaum secara mutlak di antaranya sabda Rasulullah ` :

(( لاَ عَدْوَى وَلاَ طَيْرَةَ وَلاَ هَامَةَ وَلاَ صَفَرَ وَلاَ غُوْلَ ))

Tidak ada ‘adwa, thiyarah, hamah, shafar dan ghul”

Dan juga sabda beliau ` :

(( لاَ يَنَالُ الدَّرَجَاتُ الْعُلَى مَنْ تَكَهَّنَ أَوْ اسْتَقَمَ أَوْ رَجَعَ مِنْ سَفَرٍ تَطَيُّرًا )) أَخْرَجَهُ تَمَّامٌ وَالطَّبْرَانِي

“Tidak akan mendapatkan derajad yang tinggi (yaitu orang-orang) yang berbuat dukun (meramal sesuatu yang ghaib lalu memberitahukannya), yang meminta bagian agar bersumpah, atau orang yang kembali dari safar dengan sebab tathayyur”. (H.R. Tamam dan Thabrani)

Sebagaimana yang tertulis dalam (silsilah Ahadits Ash Shahihah 2161) dan sabda beliau ` yang lain :

(( الطِّيَرَةُ شِرْكٌ ))

“tathayyur adalah syirik”(HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan yang lain)

sebagaimana dari hadits-hadits dan atsar dalam bab ini.

2. Hadits-hadits yang difahami tentang adanya tasyaum (kesialan, kemalangan) dalam berbagai hal.

sebagaimana dalam sabda Nabi ` :

(( إِنْ كَانَ الشُّؤْمُ فِي شَيْءٍ فَفِي الدَّارِ وَالْمَرْأَةِ وَالفَرَسِ )) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

“Jika kesialan pada sesuatu, maka pada rumah, wanita atau kuda (tunggangan)”. (Muttafaqun ‘alaihi)

Untuk penjelasan dari hadits ini saya)penulis) katakan walllahu a’lam (dan Allah lebih mengetahui) Sesungguhnya maksud dari hadits pada point yang pertama tadi yaitu penafian thiyarah dengan makna pembatalan apa-apa yang ada pada umat sebelumnya(pada masa lalu) dan yang masih diyakini hingga sekarang dari sebagian umat manusia.

Dari Tathayyur yang disebutkan baik dari nama-nama orang, burung atau hewan-hewan, tempat atau hari-hari, bulan tertentu atau yang selainnya, bahwasanya kesemuanya itu sama sekali tidak memberi pengaruh apa-apa dalam kesialan yang ada. Dan bukan menjadi dalil /dasar hukum atas keberadaan kesialan adalah benar halnya. Tidak diperbolehkan pula manusia bersandar dan menjadikan thiyaroh ini sebagai ukuran timbangan dalam melakukan atau meninggalkan sesuatu karena hal tersebut merupakan penafian tauhid, sedangkan pada sisi lain Allah memperintahkan untuk menegakkannya(tauhid tersebut). Juga menafikkan I’tiqod mereka bahwa segala sesuatu tidak akan dapat memberikan pengaruh apapun tanpa izin Allah ' .

Sedangkan dalil-dalil pada point yang ke 2 seperti hadits :

(( إِنْ كَانَ الشُؤْمُ فِي شَيْءٍ ...........))

“kalau saja tasyaum pada sesuatu………”

Hadits ini tidak menunjukkan keberadaan kesialan, juga tidak menunjukkan perbedaan yang ada dengan dalil sebelumnya. Akan tetapi hadits tersebut difahami bahwa jika ditemukan adanya kesialan , maka hal tersebut tidak lepas dari tiga(3) hal ini.

Kemudian makna kesialan pada hadits ini bukanlah sebagaimana yang difahami oleh anggapan sebagian besar manusia. Karena yang dimaksud dengan kesialan pada rumah hakikatnya menunjukkan pada sempitnya(keadaan fisik) rumah itu, atau banyaknya persoalan yang dihadapi oleh penghuninya. Sedangkan yang dimaksud dengan kesialan pada wanita adalah wanita yang memiliki akhlaq yang jelek, tidak dapat menjaga lisan (dari perkataan kotor dan tidak berguna), menyakiti suaminya, tidak dapat menjaga harta suami(dengan membelanjakannya bukan pada tempatnya), inilah hakikat kesialan yang terdapat pada wanita. Kemudian yang dimaksudkan dengan kesialan pada kuda(tunggangan) yaitu tunggangan yang tidak dipergunakan unuk berjuang dijalan Allah, dijadikan kebanggaan bagi pemiliknya, dan berpaling (dari mempergunakan tunggangan tersebut dijalan Allah). Inilah gambaran dan makna sesungguhnya dari kesialan yang dimaksud dalam hadits tersebut. Adapun kesialan-kesialan sebagaimana yang difahami oleh manusia dengan adanya kekhususan-kekhususan pada hal tertentu atau tanda-tanda di dalamnya, maka sesungguhnya kesemuanya itu tidak ada kesialan di dalamnya tanpa diragukan lagi.

Ini adalah penjelasan(petunjuk) di antara dalil-dalil yang ada pada bab ini dan sesungguhnya ilmu yang benar adalah disisi Allah ' .

Kelima : Cara bersikap dan membentengi diri dari perkara-perkara yang merusak aqidah (Tathayyur dan Tasyaum) dan cara berlepas darinya.

Tidaklah akan tercapai keinginan tersebut di atas kecuali apabila dilakukan amalan-amalan yang kami ringkas sebagai berikut :

1. Memiliki pemahaman yang benar

Dengan menanamkan pemahaman yang kuat dan kokoh bahwasanya Allah ' adalah Dzat yang ditanganNya seluruh kekuasaan atas segala sesuatu yang ada di alam ini. Dan memiliki keyakinan bahwa tidak ada sesuatu apapun yang akan memberikan pengaruh tanpa izinNya. Dialah Allah ' yang tidak menjadikan hanya semata-mata masalah sebuah nama atau nomor khusus yang dapat memberikan pengaruh jahat dan mengharuskan seseorang untuk menjauhinya.

2. Memiliki ilmu yang disandarkan pada Nabi r.

Yaitu memiliki landasan ilmu yang bersumber dari Nabi Muhammad ` dari larangan melakukan Thiyaroh, menafikkannya, memperingatkan dengan keras dari perbuatan ini, dan membentengi diri dari perbuatan tersebut.

Di antara ilmu yang dapat kita ambil disini adalah sabda r :

(( مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ عَنْ حَاجَتِهِ فَقَدْ أَشْرَكَ ))

“Barangsiapa yang mengurungkan niatnya dari hajatnya (dengan sebab Thiyaroh) maka ia telah berbuat syirik”

Dan sabda beliau ` :

(( الطِّيَرَةُ شِرْكٌ )) قَوْلُه (( لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ ))

“Ath Thiyaroh adalah syirik”, dan sabda beliau ` yang lain : “Tidak ada ‘adwa , Thiyarah “

Demikian pula sebuah riwayat dimana seseorang mendapatkan pahala dan balasan amal yang banyak bagi yang meninggalkan tathayyur, sebagaimana disebutkan di dalam sebuah hadits 70.000 orang yang masuk sorgatanpa hisab. Sabda beliau ` :

(( هُمُ الِّذِيْنَ لاَ يَسْتَرْقُوْنَ وَلاَ يَكْتَوُوْنَ وَلاَ يَتَطَيَّرُوْنَ , وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنََ )) أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ وَغَيْرُهُ

“Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta untuk diruqyah, tidak melakukan kay (pengobatan dengan besi panas), tidak melakukan tathayyur, dan kepada Rab mereka bertawakal.” H.S.R. Muslim dan yang lainnya.

Apabila menusia memiliki pemahaman seperti ini dan mengatahui bahwasanya akibat perbuatan tathayyur dan pahala bagi yang menjauhi tathayyur niscaya mereka akan meninggalkan amalan tathayyur ini tanpa diragukan lagi.

3. Berbuat ihsan dalam bertawakal kepada Allah ' , karena dengan sikap tawakal yang sebenarnya dapat menghilangkan rasa pesimisme dan kesialan yang timbul dan membuat kebimbangan di hati manusia.

4. Hendaknya kita selalu mengucapkan :

(( اللّهُمَّ لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ, وَلاَ طِيَرَ إِلاَّ طِيَرُكَ وَلاَ إِلهَ غَيْرُكَ )) أخْرجه أحْمد وغيْره

“ Ya Allah tidaklah ada kebaikan kecuali kebaikan (disisi)Mu, tidaklah ada kesialan kecuali kasialan (dari)Mu, tidaklah ada sesembahan (yang berhak disembah) kecuali diriMu” Hadits Riwayat Ahmad dan yang lainnya.

5. Seseorang dalam melaksanakan keinginannya hendaknya didasari atas keyakinan dan tawakal kepada Allah ' serta meyakini bahwa tidak ada di dalam (amalan yang akan dilakukannya) kesialan atau yang lainnya.

Inilah amal-amal yang dapat membantu dalam berlepas diri dari adat yang sangat beracun dan merusak umat dengan diiringi tawakal kepada Allah ' .Semoga tulisan ini dapat memperbaiki aqidah, akhlaq kaum muslimin, dan memperkuat serta membentengi aqidah mereka dari perkara-perkara tahayul dan khurafat. Sesungguhnya hanya Allah Yang Maha Pemberi Petunjuk kepada jalan yang benar.

1 komentar: