Powered By Blogger

Jumat, 09 Oktober 2009

صورة الجواب للشيخ أحمد السركتي الأنصاري السلفي

Syaikh Ahmad bin Muhammad al-Surkati al-Anshari

Kitab S{u>ratu al-Jawa>b

(Studi keabsahan hukum pernikahan antara keturunan Ba Alwi dengan non Ba Alwi)

I. Biografi Syaikh Ahmad al-Surkati :

Beliau dilahirkan di desa Udfu, jazirah Urqu[1] bagian daerah Dongula, Sudan. Pada tahun 1292 H atau 1875 M, ayah beliau bernama Muhammad yang diyakini bernasab pada qabiilah al-khazraj yang bersambung nasab tersebut hingga kepada salah seorang sahabat Jabir ibn Abdillah ibn ‘Amru al-Anshari t. Sehingga gelar nama al-Anshari melekat kepada beliau. Sedangkan nama al-Surkati adalah berasal dari nenek moyang beliau yang ke-empat. Asal mula nama surkati ini adalah dari bahasa penduduk Dongula yang memiliki arti banyak buku. (Dalam bahasa masyarakat Dongula “ سَوْرْ “ memiliki arti “buku”, dan “ كَتِيْ “ dalam bahasa Dongula digunakan sebagai penunjukan makna “yang banyak”) [2]. Karena dikisahkan dahulu nenek moyang Syaikh Ahmad menuntut ilmu di Mesir dan ketika pulang membawa buku yang sangat banyak.

Syaikh Ahmad Surkati berasal dari keluarga yang sangat gemar dalam menuntut ilmu, selain nenek moyang beliau yang memiliki banyak buku, demikian pula halnya dengan ayahanda beliau. Ayah syaikh adalah seorang terpelajar lulusan dari al-Azhar, beliau-pun menyandang gelar “Surkati” dan ketika pulang dari menuntut ilmu ia membawa buku yang banyak.

Syaikh Ahmad Surkati memiliki banyak keistimewaan, diantaranya dalam masalah kecerdasan. Ketika usia muda beliau tidak memiliki kesulitan dalam menghafalkan al-Quran sebagaimana yang dialami teman-teman beliau. Sehingga dengan sangat mudah beliau menghafalkan al-Quran dengan waktu yang sangat singkat. Dikisahkan bahwasanya pada saat usia muda pernah beliau diuji hafalannya dalam sebuah majelis oleh salah satu guru al-Quran [3]. Syaikh Ahmad menghafalkan al-Quran hanya berbekal pada bacaan salah satu teman beliau yang ia dengar satu kali. Sehingga semenjak saat itu Syaikh Ahmad mendapatkan perhatian khusus dari sang guru dalam menuntut ilmu.

Setelah selesai dari menuntut ilmu di masjid al-Qaulid beliau melanjutkan studi ke Ma’had Sharqy Nawa yang diasuh oleh salah seorang ‘alim terkenal di sana. Di tempat ini pula beliau memiliki keistimewaan yang menonjol dalam masalah kecerdasan sehingga dapat menyelesaikan pendidikannya dengan waktu yang singkat.

Selesai dari studi di Ma’had Sharqy Nawa, Syaikh Ahmad melanjutkan studi beliau ke kota Madinah al-Munawarah. Diantara guru-guru beliau yang terkemuka dalam bidang hadits adalah Syaikh Fa>lih} [4] dan Syaikh ‘Umar H{amda>n [5] keduanya berasal dari Maroko. Kemudian dalam ilmu fiqih beliau belajar kepada Syaikh Ah}mad ibn al-Ha>jj ‘Ali> al-Majdhu>b[6], sedangkan dalam ilmu qiraat beliau belajar kepada Syaikh al-Khuyari> al-Maghriby[7], serta belajar bahasa Arab kepada Syaikh Ah}mad al-Barzanjy al-Madi>ni>[8]. Di kota Madinah ini Syaikh Ahmad tinggal kurang lebih selama empat tahun setengah.

Kemudian beliau melanjutkan menuntut ilmu di kota Makkah, dan di kota ini Syaikh mendapatkan gelar kehormatan dari majelis Ulama Makkah sehingga mendapatkan sebutan al-‘Alla>mah. Salah seorang kakak kandung Syaikh yang bernama Sati Muhammad Surkati menuturkan bahwasanya tidak ada orang Sudan yang mendapatkan gelar yang semacam ini sebelumnya,walaupun pada saat itu banyak ulama Sudan yang tinggal di kota Makkah. Hal ini disebabkan bahwasanya konon ulama’ Makkah sangat selektif dalam memberikan pujian dan gelar sanjungan kepada orang-orang ‘Aqi> (orang yang bukan berasal dari negeri Hijaz).

Diantara guru-guru beliau di Makkah adalah Syaikh As’ad dan Syaikh Abdurrama>n yang merupakan putera tertua dari Syaikh al-Kabi>r Ah}mad al-Duh}a>n. Selain beliau berdua Syaikh Ahmad juga belajar kepada al-’Alla>mah Syaikh Muh}ammad ibn Yu>suf al-Khayya>t} dan Syaikh Shu’ayb ibn Mu>sa> al-Maghribi>. Akhirnya beliau (Syaikh Ahmad) mendapatkan ijazah pada tahun 1326 H, dan sejak saat itu beliau mulai mengajar secara resmi di Masjid al-H{ara>m Makkah[9]. Selain itu beliau juga mengajar di beberapa madrasah lain di Makkah.

Dalam mengembangkan pandangan keilmuan yang dimiliki, beliau banyak berhubungan dengan menulis surat kepada beberapa ulama al-Azha>r, sehingga beliau banyak di kenal oleh mereka. Hingga pada suatu ketika datang utusan Jam’iyat al-Khayr untuk mencari guru dan ulama al-Azha>r merekomendasikan Syaikh Ah}mad Surkati untuk segera dihubungi oleh mereka secara langsung di Makkah.

Setelah utusan Jam’iyat al-Khayr bertemu dengan Syaikh Ahmad Surkati, akhirnya mereka sepakat untuk pergi ke Indonesia dengan ditemani dua orang sahabat Syaikh yang bernama Syaikh Muhammad Abd al-Hamid al-Sudani dan Syaikh Muhammad Thayyib al-Maghribi. Dan akhirnya beliau meninggalkan Makkah untuk menuju ke Indonesia. [10]

II. Perjalanan dakwah di Indonesia

Kedatangan Syaikh Ahmad Surkati di Indonesia disambut hangat oleh para pengurus Jam’iyat al-khair di Batavia(Jakarta). Kedatangan beliau merupakan jawaban atas undangan Jam’iat al-Khair yang merupakan sebuah lembaga dakwah dan sosial yang membidangi berbagai macam bidang usaha, dan diantaranya adalah pendidikan. Lembaga pendidikan Jam’iyah al-Khair membutuhkan bantuan tenaga pengajar di sekolah-sekolah mereka. Jam’iyat ini dikelola oleh orang-orang Indonesia keturunan Arab golongan Ba Alwi(keluarga besar Alawi)[11].

III. Keberadaan masyarakat Ba Alwi di Hadramaut [12]

Dijelaskan oleh Syaikh Ahmad al-‘A>qib al-Ans}a>ri dalam salah satu risalah beliau ketika menjelaskan bagaimana perjuangan Syaikh Ahmad Muhammad al-Surkati di pulau Jawa dalam mengajarkan pemahaman Islam yang benar. Dalam risalah beliau dijelaskan bagaimana keadaan masyarakat Arab keturunan Ba Alwi yang sebelumnya hidup di Hadramaut.

Dalam kehidupan mereka di negeri hadharim ada beberapa kejanggalan terutama menyebarnya sebuah pemahaman “bangga dan ‘ujub terhadap keturunan nenek moyang”, terlebih bagi mereka yang ‘mengaku’ memiliki keturunan Ba Alwi(anak keturunan dari Rasulullah r). Rasa ujub ini menutup hati kebanyakan umat Islam (kelangan Ba Alwi) untuk bermalas-malasan dalam beramal shalih, karena mereka beranggapan bahwa keberadaan nasab yang mulia dapat menyelamatkan mereka dari kesalahan yang mereka perbuat dalam kehidupan di dunia. Sehingga mereka yang mengaku keturunan Ba Alwi banyak melakukan kesalahan dan perbuatan dosa, mereka tidak memiliki rasa malu ketika berbuat salah sebagaimana manusia lain merasa malu apabila berbuat hal tersebut. Tidak pula ada dalam diri mereka rasa takut ketika berbuat dosa sebagaimana rasa takut yang dimiliki oleh orang selain mereka. Kesemuanya kembali kepada anggapan dan aqidah mereka, bahwa keberadaan nasab yang mereka miliki dapat menyelamatkannya dari kesalahan apapun yang telah mereka perbuat.

Keberadaan pemahaman yang salah di atas di dukung dengan menyebarnya kebodohan di tengah masyarakat, menyebarnya kebodohan ini berupa beredarnya sekian banyak kisah dan riwayat ‘palsu’ yang dinisbatkan kepada Rasulullah r. Kisah-kisah yang berbau khurafat dan takhayul banyak disebarkan oleh masyarakat Ba Alwi dalam rangka melanggengkan keberadaan mereka di tengah masyarakat. Keberadaan kisah-kisah ‘palsu’ ini sangat menguntungkan bagi keturunan Ba Alwi pada saat itu. Sehingga masyarakat non Ba Alwi dicekoki dengan rasa takut untuk senantiasa menghargai, mengagungkan, menghormati, bahkan mengkultuskan keturunan Ba Alwi baik yang masih hidup ataupun yang telah wafat.

Tentunya dari kisah di atas sangatlah bertentangan dengan keberadaan Islam ketika pertama kali di bawa oleh Rasulullah r, dari realita sejarah dapat kita temukan bahwa kaum muslimin pada zaman tersebut sebagaimana jasad/tubuh yang satu, mereka terikat dengan ikatan keadilan dan persaudaraan Iman dan Islam dan persamaan derajat di mata Allah. Perbedaan derajat hanya ada dalam lingkup amal shalih dan ketakwaan yang dimiliki seseorang. Tanpa melihat dari keturunan atau dari mana orang tersebut. Mereka bangga akan agama yang mereka anut dan yakini(yaitu Islam), persatuan mereka dalam naungan rasa cinta dan Islam. Mereka meyakini akan kemuliaan dan kemerdekaan yang di bawa oleh Islam, mereka saling berlomba untuk mendapatkan kedudukan dan derajat yang tinggi di sisi Allah dengan cara melakukan amal shalih dan berakhlaq mulia. Inilah beda antara pemahaman Islam dahulu dan Islam pada masa setelah bergulirnya zaman.

IV. Keturunan Ba Alwi dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia.

Dalam pandangan masyarakat secara umum, dahulu keluarga keturunan Ba Alwi adalah sosok keturunan yang memiliki “derajat” yang tinggi apabila dibandingkan dengan masyarakat keturunan Arab non Ba Alwi, terlebih lagi apabila dibandingkan dengan masyarakat non Arab. Bahkan di beberapa kalangan, keberadaan mereka(masyarakat Ba Alwi) terkadang “dipercaya” dapat mendatangkan manfaat atau menolak mudharat. Hal ini dikarenakan adanya doktrin yang dikembangkan oleh kalangan Ba Alwi kepada masyarakat umum akan keutamaan yang mereka miliki dari kalangan yang lainnya. Yang terkadang kalangan Ba Alwi menggunakan ayat-ayat al-Quran dan sunnah Nabi r sebagai dalil/landasan untuk menguatkan dalam melanggengkan kedudukan dan derajat yang mereka miliki di pandangan masyarakat. Mereka berdalih bahwa dalam al-Quran dan sunnah Rasulullah n -pun mengajarkan tentang tafadhul [13] atas dasar keturunan.

Diantara dalil-dalil al-Quran yang mereka gunakan sebagaimana yang ditulis oleh Shadaqah Zaini Dahlan[14] dalam menyanggah tulisan Syaikh Ahmad Surkati(S}u>rat al-Jawa>b) :

تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ

“Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat”.[15]

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ

Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain.[16]

يَانِسَاءَ النَّبِيِّ مَنْ يَأْتِ مِنْكُنَّ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ يُضَاعَفْ لَهَا الْعَذَابُ ضِعْفَيْنِ

Hai isteri-isteri Nabi, siapa-siapa di antaramu yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata, niscaya akan dilipat gandakan siksaan kepada mereka dua kali lipat.[17]

وَمَنْ يَقْنُتْ مِنْكُنَّ لِلَّهِ وَرَسُولِهِ وَتَعْمَلْ صَالِحًا نُؤْتِهَا أَجْرَهَا مَرَّتَيْنِ وَأَعْتَدْنَا لَهَا رِزْقًا كَرِيمًا

Dan barangsiapa di antara kamu sekalian (isteri-isteri Nabi) tetap taat pada Allah dan Rasul-Nya dan mengerjakan amal yang saleh, niscaya Kami memberikan kepadanya pahala dua kali lipat dan Kami sediakan baginya rezki yang mulia.[18]

يَانِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ

Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain….., [19]

Dalam ayat lanjutan, orang-orang Ba Alwi menjadikan sebagai landasan utama akan keberadaan tafadhul dikalangan ahli al-bayt sebagai golongan yang termulia setelah Nabi r, yang berbunyi :

إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.[20]

Dan bebapa riwayat hadits yang mereka gunakan dalam memperkuat hujjahnya adalah :

Pertama : Riwayat yang menjelaskan sebab turunnya ayat surat al-Ahzab : 33, dan doa Rasulullah r kepada keluarga beliau (Fatimah, Hasan, Husein dan Ali y) yang pada saat itu bersama beliau :

اللَّهُمَّ هَؤُلَاءِ أَهْلُ بَيْتِي فَأَذْهِبْ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهِّرْهُمْ تَطْهِيرًا

Yaa Allah mereka adalah ahlu Bait-ku, hilangkanlah dari mereka segala macam kotoran, dan sucikanlah mereka(dari segala macam kotoran) dengan sesuci-sucinya.[21]

Kedua :

أَلَا أَيُّهَا النَّاسُ فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ يُوشِكُ أَنْ يَأْتِيَ رَسُولُ رَبِّي فَأُجِيبَ وَأَنَا تَارِكٌ فِيكُمْ ثَقَلَيْنِ أَوَّلُهُمَا كِتَابُ اللَّهِ فِيهِ الْهُدَى وَالنُّورُ فَخُذُوا بِكِتَابِ اللَّهِ وَاسْتَمْسِكُوا بِهِ فَحَثَّ عَلَى كِتَابِ اللَّهِ وَرَغَّبَ فِيهِ. ثُمَّ قَالَ : وَأَهْلُ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِيْ

Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku adalah manusia biasa yang didatangi oleh utusan Tuhanku, kemudian aku menyambut utusan tersebut. Dan aku tinggalkan untuk kalian dua hal, pertama adalah kitab Allah yang didalamnya terdapat petunjuk dan cahaya (bagi manusia). Maka ambillah kitab Allah tersebut dan berpegang teguhlah dengannya. Kemudian beliau n melanjutkan :(Kedua, pent)kemudian adalah ahlu Bait-ku(keluargaku). Semoga Allah senantiasa mengingatkan kalian terhadap ahlu baitku(diucapkan beliau sebanyak tiga kali).[22]

Ketiga:

إِنِّي تَارِكٌ فِيكُمْ مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدِي أَحَدُهُمَا أَعْظَمُ مِنَ الْآخَرِ كِتَابُ اللَّهِ حَبْلٌ مَمْدُودٌ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ وَعِتْرَتِي أَهْلُ بَيْتِي وَلَنْ يَتَفَرَّقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ فَانْظُرُوا كَيْفَ تَخْلُفُونِي فِيهِمَا

Aku tinggalkan untuk kalian yang selama kalian berpegangteguh dengannya sepeninggalku, tidak akan pernah tersesat. Yang pertama lebih agung daripada yang lainnya(yang kedua) adalah kitab Allah, merupakan tali yang terbentang dari langit ke bumi. Kemudian yang lainnya(keduanya) adalah ahlu bait-ku. Tidak akan berpisah dua hal ini sehingga keduanya bertemu denganku di al-Haudh(telaga). Lihatlah kalian semua, bagaimana kalian akan menggantikan aku dalam kedua hal tersebut.[23]

Dari dalil-dalil di atas tadi akhirnya masyarakat keturunan Ba Alwi beranggapan bagaimanapun perilaku yang mereka lakukan, tetap keberadaan nasab dapat mengangkat dan menyelamatkan mereka. Selain itu, derajat dan kedudukan tinggi yang mereka yakini menyebabkan adanya pemahaman mereka akan ketidak absahan sebuah pernikahan yang dilakukan oleh pihak wanita masyarakat Ba Alwi dengan pria masyarakat non Ba Alwi. Atau dengan kata lain salah satu syarat atau rukun keabsahan sebuah pernikahan adalah adanya kesamaan derajat(kufu’ / kafa’ah). Dan kejadian ini sudah berlangsung sekian lama.

V. Fatwa Solo sebab dan dampaknya

Keberadaan Syaikh Ahmad Surkati di Jam’iyat al-Khair Batavia membawa dampak positif yang sangat cepat, kemajuan akan bidang pengajaran dan hasilnya yang dikembangkan di sekolah-sekolah Jam’iyat ini membuat nama sekolah semakin banyak diminati oleh masyarakat sekitar. Tidak hanya itu saja, perhatian yang sangat besar dari masyarakat secara luas membuat pengurus jam’iyat berkeinginan untuk mendatangkan lagi guru dari luar negeri lewat perantaraan Syaikh Ahmad.

Sangat disayangkan sambutan dan penerimaan yang hangat terhadap Syaikh Ahmad dari pengurus Jam’iyat al-Khair tidak bertahan lama. Terlebih pada tahun ketiga dari kedatangan Syaikh ke Batavia, pernah suatu hari beliau melakukan kunjungan di kota Solo. Di kota ini beliau singgah di rumah salah satu keluarga keturunan Arab al-Hamid, dan pada saat itu Sa’ad ibn Sunkar bertanya tentang keabsahan hukum perkawinan (menurut Allah dan Rasul-Nya) antara Sharifah[24] dengan pria non Sayyid. Dan dijawab oleh beliau dengan jawaban yang tegas “Boleh dan sah menurut hukum shara’ yang adil”.[25] Terhadap jawaban yang seperti ini masyarakat Ba Alwi sangat marah, dan menuntut Syaikh untuk mencabut jawabannya tersebut yang mereka anggap sebagai penghinaan terhadap kedudukan yang mereka miliki selama ini. Mengingat kepercayaan akan kedudukan dan derajat tinggi yang mereka miliki dibandingkan dengan golongan masyarakat lainnya sudah mendarah daging secara turun temurun. Selain itu pula masyarakat Ba Alwi telah mendapatkan sekian banyak penghormatan dan fasilitas dari masyarakat keturunan Arab non Ba Alwi atau non keturunan Arab dengan sebab kepercayaan tersebut. Keberadaan fatwa Syaikh Surkati tentunya akan memberikan dampak negatif bagi mereka yang telah sekian lama sebelumnya mendapatkan banyak keuntungan.

Permintaan untuk mencabut jawaban tersebut ditolak oleh Syaikh Ahmad, dan beliau mengatakan bahwa apa yang ia ucapkan adalah sesuai dengan al-Quran dan al-Sunnah yang shahih. Dan akhirnya beliau-pun menyatakan keberatannya untuk menarik jawaban yang beliau lontarkan ketika di kota Solo. Sehingga sejak saat itu beliau dibenci, difitnah, dan dijauhi oleh mayoritas masyarakat Ba Alwi yang semula menghormati beliau. Melihat gelagat yang tidak baik akhirnya beliau meminta untukmengundurkan diri dari mengajar dan pulang kembali ke Makkah kepada pengurus Jam’iyat al-Khair, akan tetapi pengurus jam’iyat tidak bersedia memberikan tiket perjalanan kepada beliau. Sehingga kemudian, beliau bersama beberapa masyarakat keturunan Arab non Ba Alwi mendirikan Jam’iyat al-Is}la>h} wa al-Irsha>d al-‘Arabiyah.

Keberadaan fatwa Solo semakin menimbulkan keresahan di kalangan Ba Alwi sehingga serangan terhadap fatwa ini dari mereka semakin gencar dilakukan. Mengingat keberadaan fatwa tersebut telah beredar tidak hanya dari mulut ke mulut bahkan sampai ke surat kabar yang beredar. Akhirnya H.O.S Tjokroaminoto selaku pimpinan surat kabar Suluh Hindia meminta beliau untuk menjawab beberapa pertanyaan yang menyangkut fatwa Solo dan meminta beliau untuk memberikan dasar hukum dan contoh-contoh atas fatwa ini[26]. Dalam rangka meluruskan kesimpang siuran fatwa ini akhirnya Shaikh Ahmad Surkati menerbitkan risalah yang berjudul S}u>ratu al-Jawa>b.

VI. S{u>rat al-Jawa>b

Keberadaan risalah S}u>ratu al-Jawa>b merupakan jawaban atas sekian banyak gejolak masyarakat Arab non Ba Alwi dan non Arab terhadap masyarakat keturunan Arab Ba Alwi. Syaikh Ahmad membuka risalah ini dengan beberapa hujjah yang akan mendukung terhadap risalah yang akan dibawakan olehnya.

Beliau memulai dengan menukil beberapa ayat al-Quran dalam kaitan yang berhubungan dengan permasalahan ilmu. Diantaranya :

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): "Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya."[27]

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ + إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila`nati Allah dan dila`nati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat mela`nati, kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itu Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.[28]

Dalam masalah wajibnya untuk mengembalikan segala macam perselisihan dan perbedaan beliau mengacu pada beberapa ayat di antaranya :

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.[29]

وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ

Tentang sesuatu apapun kamu berselisih maka putusannya (terserah) kepada Allah[30].

وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah [31].

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihimu”[32]

Akhirnya beliau(Syaikh Ahmad Surkati) memulai membuka permasalan yang berkaitan dengan persamaan dan derajat keturunan. Menurut beliau pembagian kabilah dan suku atau nama-nama yang beraneka ragam adalah bertujuan untuk saling mengenal satu sama lainnya. Bahkan diantara berbagai macam agama yang ada dan berkembang juga mengakui bahwa asal mula manusia adalah dari satu keturunan yang sama. Dalam sebuah ayat dibawakan oleh beliau :

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal [33].

Berlandaskan ayat yang mulia di atas Syaikh mengisyaratkan bahwa keutamaan yang dimiliki seseorang bukanlah diukur dari keturunan atau nasab yang ia miliki, akan tetapi diukur dari ilmu yang mereka miliki, kemudian amal shalih yang mereka kerjakan dan akhlaq yang mulia. Kedudukan ilmu, amal shalih, dan akhlaq yang mulia adalah lebih utama dan lebih tinggi dibandingkan dengan keberadaan nasab yang diunggulkan. Ada beberapa riwayat dari Rasulullah r yang bisa memberikan pendukung dari teori ini, diantaranya :

وَمَنْ أَبْطَأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ

“Barangsiapa yang lambat akan amal perbuatannya, nasab(keturunannya) tidak akan mempercepat(dalam membantu amal)nya”[34]

لَيْسَ لِأَحَدٍ فَضْلٌ إِلَّا بِالدِّينِ أَوْ عَمَلٍ صَالِحٍ

“Tidak ada keutamaan yang dimiliki seseorang kecuali dengan agama atau amal shalih”.[35]

لَيْسَ لِأَحَدٍ عَلَى أَحَدٍ فَضْلٌ إِلَّا بِدِينٍ أَوْ تَقْوَى

“Tidak ada keutamaan yang dimiliki seseorang terhadap orang yang lainnya kecuali dengan agama atau ketaqwaan”[36].

لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ وَلَا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ وَلَا لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ وَلَا أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلَّا بِالتَّقْوَى

Tidak ada keutamaan bagi keturunan Arab terhadap keturunan non Arab(A'jamiy)demikian pula sebaliknya, tidak ada pula keutamaan yang dimiliki oleh keturunan yang berwarna kulit merah terhadap keturunan yang berkulit hitam, demikian pula sebaliknya. Terkecuali dengan keutamaan ketakwaan(yang mereka miliki).[37]

Setelah memaparkan sekian banyak dalil dari al-Quran dan Sunnah Rasulullah r Syaikh Surkati menyatakan bahwa keberadaan kelompok manusia yang merasa lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan yang lainnya, dengan sebab adanya keutamaan nasab/keturunan, darah, daging, dan lain sebagainya. Yang kesemuanya itu tidak dilandasi dengan adanya amal shalih dan ilmu yang benar, terlebih lagi apabila hal tersebut disandarkan kepada syariat yang ada[38], maka anggapan ini adalah tertolak. Beliau beralasan bahwa perilaku tersebut tidak ada tauladan dari Rasulullah r, dan Rasulullah r bersabda dalam salah satu riwayat :

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang mengadakan sesuatu yang baru dalam urusan(agama) kami ini, maka hal tersebut akan tertolak”.[39]

Pembicaraan para ulama tentang keberadaan keutamaan yang terdapat pada suatu nasab diantara kaum muslimin, bukanlah sebagai penjelasan akan keutamaan yang dimiliki seseorang terhadap seseorang yang lainnya. Akan tetapi sudut pandang para ulama dalam masalah ini adalah dalam rangka kebaikan muamalah/sosialisasi dalam kehidupan bermasyarakat.

Syaikh Ahmad mengambil beberapa contoh untuk membatalkan pemahaman masyarakat keturunan Ba Alwi yang menganggap bahwa pernikahan wanita keturunan Ba Alwi dengan pria keturunan non Ba Alwi adalah tidak sah. Diantara contoh-contoh yang beliau ambil adalah:

  1. Kisah Rasulullah r yang menikahkan Zainab binti Jahsyin puteri bibi beliau Amiimah binti Abdil Muthalib dengan Zaid ibn Haritsah mantan budak beliau t [40].
  2. Kisah Rasulullah r yang menikahkan Ummu Kultsum binti ‘Uqbah ibn Abi Mu’ith dengan Zaid ibn Haritsah(setelah bercerai dengan Zainab)[41]
  3. Pernikahan antara Fatimah binti Qays al-Qursyiyah dengan Usamah bin Zaid seorang keturunan Budak[42]
  4. Pernikahan antara kedua puteri Rasulullah r Ruqayyah dan Ummu Kultsum dengan Utsman ibn ‘Affan[43]
  5. Ali y menikahkan puterinya Ummu Kultsum(puteri dari Fatimah y) dengan Umar ibn al-Khatthab y [44].
  6. Abdurrahman ibn ‘Auf menikahkan saudara perempuannya dengan sahabat Bilal al-Habasyi y sebagaimana disebutkan dalam Za>d al-Ma’a>d[45].
  7. Abu Hudzaifah bin ‘Utbah bin Rabii’ah al-Qursiyyi(salah satu sahabat Nabi r yang ikut perang Badar) menikahkan Salim(salah seorang mantan budak wanita Anshar) dengan anak perempuan saudaranya Hindun binti al-Waliid binti al-‘Utbah ibn Rabii’ah al-Quraisy, sebagaimana dikisahkan dalam shahih al-Bukhari[46]
  8. Dalam sunan al-Tirmidzi disebutkan dari Rasulullah r bahwasanya beliau bersabda :

إِذَا جَاءَكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَأَنْكِحُوهُ إِلَّا تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَإِنْ كَانَ فِيهِ قَالَ إِذَا جَاءَكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَأَنْكِحُوهُ) ثَلَاثَ مَرَّاتٍ(

Jika datang kepada kalian seorang laki-laki(datang melamar) yang kalian ridha akan agama dan akhlaqnya, maka nikahkanlah dia. Dan seandainya hal ini tidak kalian lakukan, niscaya akan ada fitnah dan kerusakan di muka bumi ini. Para sahabat bertanya : “Wahai Rasulullah ! Walaupun dengan apa(kekurangan, pent) yang dimiliki oleh laki-laki tersebut?”. Dan dijawab oleh beliau r :” Jika datang kepada kalian seorang laki-laki(datang melamar) yang kalian ridha akan agama dan akhlaqnya, maka nikahkanlah dia”(dan diulangi oleh beliau hingga tiga kali)[47]

Ditutup oleh Syaikh Ahmad tentang kisah-kisah yang beliau contohkan bahwa inilah suri tauladan yang pernah dan telah dilakukan oleh Rasulullah r beserta para sahabat beliau yang mulia y. Kemudian beliau menukil tiga buah ayat al-Quran sebagai bahan renungan bagi orang-orang yang cinta kepada Rasulullah r dan berkeinginan untuk mengikuti tauladan yang dibawa olehnya r :

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu'min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.[48]

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.[49]

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.[50]

VII. Kesimpulan penulis dalam masalah keabsahan pernikahan yang tidak sekufu

  1. Kafaah merupakan salah satu standarisasi dalam kriteria memilih pasangan

Hal ini telah jelas dan disampaikan oleh Rasulullah r dalam salah satu riwayat yang berbunyi :

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Seorang wanita dinikahi karena empat faktor : karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya. Pilihlah wanita yang memiliki agama niscaya engkau akan beruntung”[51]

Sehingga dari keterangan riwayat di atas Rasulullah r menganjurkan untuk memilih wanita yang memiliki empat kriteria sebagai jodoh atau calon isteri. Akan tetapi pada kalimat terakhir ada sebuah anjuran dari beliau r untuk mendahulukan memilih wanita yang memiliki kelebihan dalam masalah pemahaman agama.

  1. Islam telah menetapkan masalah kafaah tersebut[52]

Dalam sekian banyak kitab fiqih yang ditulis oleh para ulama dapat kita jumpai akan pembahasan masalah kafaah yang dijadikan sebagai salah satu syarat keabsahan sebuah pernikahan. Walaupun dalam hal ini banyak terjadi ikhtilaf. Diantara beberapa hal yang berkaitan dengan masalah kafaah adalah :

    1. Kafaah yang berkaitan dengan agama

Masalah agama sebagai tolok ukur kafaah telah disepakati secara ijma’ oleh kaum muslimin. Para imam-pun sepakat meletakkan standarisasi kafaah dalam masalah agama sebagai yang paling utama. Sebagaimana ucapan Rasulullah r :

فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

Pilihlah wanita yang memiliki agama niscaya engkau akan beruntung

    1. Kafaah yang berkaitan dengan nasab atau keturunan

Diantara para ulama pembahasan masalah kafaah yang berkaitan dengan masalah nasab terjadi banyak perselisihan, apakah merupakan salah satu faktor mutlak yang harus dipenuhi terhadap keabsahan sebuah pernikahan ataukah tidak. Dalil yang digunakan diantaranya adalah sabda Rasulullah r yang berbunyi :

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَعِيلَ وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِي هَاشِمٍ وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِمٍ

Sesungguhnya Allah telah memilih Kinanah dari anak keturunan Ismail, dan memilih Quraisy dari Kinanah, dan memilih Bani Hasyim dari Quraisy, dan aku dipilih dari Bani Hasyim [53].

Akan tetapi ada beberapa dalil lain yang menghapuskan keberadaan kafaah nasab ini sebagaimana tercantum pada kisah-kisah yang dinukil oleh Syaikh Ahmad al-Surkati. [54]

Demikian pula terdapat beberapa nukilan dari para imam dan ulama madzhab yang membahas tentang kafaah nasab, kami nukilkan diantaranya :

1. Kalangan Hanafiah

Dikatakan oleh Abu Hanifah, demikian pula oleh Abu Yusuf dengan redaksi :

"لأَن التفاخر بالدين أحق من التفاخر بالنسب والحرية والمال.... "

“Dikarenakan kebanggaan di dalam masalah agama adalah lebih berhak dan layak apabila dibandingkan dengan kebanggaan dalam nasab(keturunan), dan kemerdekaan, dan harta…”[55]

ibnu Humam menjelaskan bahwasanya kedua pendapat beliau di atas adalah shahih[56].

2. Kalangan Malikiyyah

Dikatakan oleh Ahmad al-Dirdi>r, penulis Syarhu al-Kabi>r “ Kafaah adalah pada agama….”[57]

3. Kalangan Syafi’iyyah

Al-Imam Muhammad ibn Idris al-Syafi’i menjelaskan: “Tidaklah haram sebuah pernikahan yang dilaksanakan oleh orang yang tidak sekufu’, karena seandainya si wanita ridha akan keadaan mempelai pria, demikian pula sang wali maka hal itu(kafa’ah) tidaklah menjadi masalah”[58].

Abu Is}h}a>q Ibra>hi>m ibn ‘Ali> al-Syi>ra>zi mengatakan : “Kafaah adalah dalam masalah agama, nasab(keturunan), kemerdekaan, ……, akan tetapi pertimbangan dalam masalah agama adalah yang lebih utama”[59].

4. Kalangan Hanabilah

Ibn Qudamah menjelaskan ucapan al-Khiraqi: “Banyak diriwayatkan dari Ahmad ibn Hanbal tentang syarat kafaah, dikatakan ada dua yaitu agama dan keturunan, kemudian ada pula yang meriwayatkan lima, dua yang tadi, kemudian kemerdekaan, keahlian/profesionalisme, dan kemudahan dalam harta(kekayaan).”.[60]

Dari kesemuanya yang benar adalah bahwasanya kafaah ada dalam masalah agama dan yang mendukung keabsahan sebuah pernikahan.

    1. Kafaah dalam masalah harta kekayaan

Demikian pula terhadap masalah ini terjadi ikhtilaf diantara ulama, dalil yang digunakan dalam hal ini adalah salah satu ucapan Rasulullah r kepada Fatimah binti Qays tentang Mu'awiyyah :

وَأَمَّا مُعَاوِيَةُ فَصُعْلُوكٌ لَا مَالَ لَهُ

"Sedangkan Mu'awiyyah adalah seorang yang faqir dan tidak memiliki harta.." [61]

Dan dalil ini juga dibatalkan oleh salah satu ayat :

وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.[62]

    1. Kafaah yang berkaitan dengan masalah profesi/keahlian
    2. Kafaah yang berkaitan dengan kekayaan[63].

  1. Kafaah nasab bukan merupakan syarat keabsahan sebuah pernikahan dalam agama Islam.

Telah jelas dalam keterangan di atas tadi bahwasanya keberadaan nasab atau keturunan bukanlah tolok ukur/standarisasi keabsahan sebuah pernikahan. Keberadaan agama/al-Di>n dan amal shalih adalah penentu utama dalam syariat Islam.


Daftar Pustaka

ü ‘Abdi al-Jabba>r, ‘Umar , Siyar wa Tara>ji>m Ba’d} ‘Ulama>’ina> fi> al-Qarni al-Ra>bi’ ‘Ashar li al-Hijrah, Cet. II (Makkah : Mu’assasah Makkah li al-T{iba>’ah wa al-I’la>m, 1385 H)

ü Abu> Shauky, Ah}mad Ibra>hi>m, Ta>ri>kh Harakat al-Is}lah} wa al-Irsha>d, (Kuala Lumpur: Akademi Islam, University Malaya, 2000 M)

ü Affandi, Bisri, Syaikh Ahmad Surkati Pembaharu dan Pemurni Islam di Indonesia.(Jakarta : Pustaka al-Kautsar, 1999)

ü Dah}la>n, ‘Abdulla>h ibn Muhammad S{adaqah Zayni: Irsa>l al-Shiha>b ‘ala S{u>rat al-Jawa>b:(Surabaya, Setia Usaha, tt).

ü al-Dirdi>r, Abu al-Baraka>t Si>di> Ah}mad, Syarh} al-Kabi>r, (t.p: Da>r al-Ihya>’ al-Kutub al-‘Arabiyyah, t.t)

ü al-Dhahaby, Shams al-Di>n Muhammad, Siyar a'la>m al-Nubala>’ :(Beirut: Mu’assasah al-Risa>lah, 1414)

ü al-Jawziyyah, ibn Qayyim, Za>d al-Ma’a>d,(Beirut: Mu’assasah al-Risa>lah, 1421)

ü Ibn Kathi>r, Tafsi>r al-Qur’a>n al-‘Az}i>m, Vol. II, tafsir surat al-Ahzab : 33

ü al-Ka>sa>ni>, ‘Alla’u al-Di>n Abi> Bakr ibn Mas’u>d, Bada>’i'u al-S{ana>’i' fi> Tarti>b al-Shara>’i' , (Beirut: Da>r al-Kutub al-‘Arabi, 1410 H)

ü ibn Mahfoed, Ahmad, Menjelang 60 tahun berdirinya Yayasan Perguruan al-Irsyad.(Surabaya :Yayasan Perguruan al-Irsyad Surabaya. 1981)

ü al-Maqdisi>, Ibn Quda>mah, al-Mughni>, tah}qi>q : ‘Abdullah ibn ‘Abd al-Muhsin al-Turky(Kairo: Hajru li> al-T{iba>’ah wa al-Nashr, 1406 H)

ü al-Murghi>na>ni>, Burhan al-Di>n ‘Ali> ibn Abi> Bakr, al-Hida>yat Sharh}u Bida>yat al-Mubtadi>, yang di cetak bersama Sharah}nya Fath} al-Qadi>r oleh Ibn Huma>m(Kairo : al-Maktabah al-Tija>riyah al-Kubra>, 1401 H)

ü Na>ji>, ‘Umar Sulaima>n: Ta>ri>kh Thawrat al-Is}la>h} wa al-Irsha>d,(t.l: t.p,t.t)

ü al-Ruhayli, Ibra>hi>m, Mawqif Ahl al-Sunnah wa al-Jama>’ah min Ahl al-Ahwa>’ wa al-Bida’ (Madinah : Maktabah al-‘Ulu>m wa al-H{ikam, 1422 H)

ü al-Sha>fi’i>, Muh}ammad ibn Idri>s, al-Umm, (Beirut : Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1413 H )

ü al-Shi>ra>zi>, Abu Is}haq Ibra>hi>m ibn ‘Ali>, al-Muhadhdhab fi> Fiqh al-Ima>m al-Sha>fi’i>. (Kairo: Mus}t}ofa al-Ba>bi> al-H}alibi>, tt)

ü al-Surkati, Ahmad Muhammad, S{u>rat al-Jawa>b : (t.l : t.p, t.t)

ü al-Zarkaly, Khair al-Di>n, al-A’la>m: Qa>mu>s Tara>jim li ashhuri al-Rija>l wa al-Nisa>’ , min al-‘Arab wa al-Musta’ribi>n wa al-Mustasyriqi>n.,(Beirut : Da>r al-‘Ilmi li al-Mala>yin, 1986 M)

ü S{ahi>h al-Bukha>ri> (Riyad} : Da>r al-Sala>m, 1418 H)

ü S{ahi>h Muslim (Riyad} : Da>r al-Sala>m, 1419 H)

ü Sunan al-Tirmidhi> (Riyad} : Da>r al-Sala>m, 1420 H)

ü Sunan al-Tirmidhi> (Riyad} : Maktabah al-Ma’a>rif, tt) cet. I.

ü Sunan al-Nasa>’i (Riyad} : Da>r al-Sala>m, 1420 H)

ü Musnad Ahmad (Riyad} : Bayt al-‘Afka>r li al-Nashr wa al-Tawzi>’, 1419 H)



[1] Urqu adalah sebuah jazirah besar dekat sungai Nil, yang terletak disebelah Selatan kota Dongala. Ah}mad Ibra>hi>m Abu> Shauky, Ta>ri>kh H{arakat al-Is}lah} wa al-Irsha>d, (Kuala Lumpur: Akademi Islam, University Malaya, 2000 M). 26

[2]. Ah}mad Ibra>hi>m Abu> Shauky, (Ta>ri>kh H{arakat…..) 27

[3] kejadian ini bertempat di masjid al-Qaulid yang pada saat itu adalah salah satu ma’had al-Quran terbesar dikawasan daerah Dongula Sudan. Ah}mad Ibra>hi>m Abu> Shauky, (Ta>ri>kh H{arakat…...). 28.

[4] Beliau adalah Fa>lih} ibn Muh}ammad ibn ‘Abdilla>h ibn Fa>lih} al-Z{a>hiri>( w. 1328 H), seorang ahli hadits dan faqih yang belajar dari ulama al-H{aramain dan Kairo. Lihat dalam ‘Umar ‘Abdi al-Jabba>r , Siyar wa Tara>ji>m Ba’d} ‘Ulama>’ina> fi> al-Qarni al-Ra>bi’ ‘Ashar li al-Hijrah, Cet. II (Makkah : Mu’assasah Makkah li al-T{iba>’ah wa al-I’la>m, 1385 H). 330.

[5] Beliau adalah ‘Umar ibn H{amda>n al-Maghribi> (w. 1949 M) seorang faqih dan ahli hadits. Lahir di Tunisia dan belajar dari beberapa ulama Madinah, Makkah, Tunisia, Persia, Damaskus, dan Hadramaut. Lihat ‘Umar ‘Abdi al-Jabba>r, Siyar wa…., hal. 330-334

[6] Seorang Faqih yang berasal dari Sudan. Ah}mad Ibra>hi>m Abu> Shauky, (Ta>ri>kh H{arakat….). 34

[7] Sampai sekarang belum ditemukan keterangan tentang pribadi beliau dalam beberapa daftar pustaka

[8] Ah}mad ibn Isma>’i>l ibn Zaynu al-‘An al-Barzanji al-Madi>ni(w. 1919 M), seorang ahli sastra dan bahasa Arab yang berasal dari kota Madinah. Belajar dari berbagai ulama kota Madinah dan Kairo, salah seorang pengajar di masjid Nabawi, kemudian pindah ke kota Damaskus pada waktu perang Dunia I hingga beliau wafat. Lihat dalam Khair al-Di>n al-Zarkaly, al-A’la>m: Qa>mu>s Tara>jim li ashhuri al-Rija>l wa al-Nisa>’ , min al-‘Arab wa al-Musta’ribi>n wa al-Mustasyriqi>n.,(Beirut : Da>r al-‘Ilmi li al-Mala>yin, 1986 M), Vol. I . 99

[9] S{alah} ‘Abd al-Qa>dir al-Bakir al-Yafi>’i>. Ta>ri>kh H{adramaut al-Siya>si, II, Mus}t}afa al-Ba>bi> al-H{alaby, Kairo 1932, lihat pula dalam Bisri Affandi, Syaikh Ahmad Surkati Pembaharu dan Pemurni Islam di Indonesia.(Jakarta : Pustaka al-Kautsar, 1999). 9

[10] Demikian menurut penuturan Sati Muhammad Surkati dalam ‘Umar Sulaima>n Na>ji> : Ta>ri>kh Thawrat al-Is}la>h} wa al-Irsha>d,(t.l: t.p,t.t) cet I, hal. 31.

[11] Golongan Ba Alwi atau Alawi atau Sayyid atau Sharif yaitu orang-orang yang menganggap dirinya sebagai keturunan langsung Nabi Muhammad r, yang berasal dari keturunan sayyid Bashrah, Ahmad Muhajir, yaitu cucu ketujuh dari cucu Muhammad r yang bernama Husain. Lihat Bisri Affandi, (Syaikh Ahmad Surkati…). 63.

[12] Ah}mad Ibra>hi>m Abu> Shauky, (Ta>ri>kh H{arakat…..) 209-220

[13] Kelebihan atau keutamaan

[14] ‘Abdulla>h ibn Muhammad S{adaqah Zayni Dah}la>n: Irsa>l al-Shiha>b ‘ala S{u>rat al-Jawa>b:(Surabaya, Setia Usaha, tt). 7-8

[15] Q.S. al-Baqarah : 253

[16] Q.S. al-Nisa : 34

[17] Q.S. al-Ahzab : 30

[18] Q.S. al-Ahzab : 31

[19] Q.S. al-Ahzab : 32

[20] Q.S. al-Ahzab : 33

[21] H.R. Tirmid}i> dalam kitab Tafsi>r al-Qura>n, no. 3129, Ah}mad dalam al-Musnad, kitab Musnad al-Sha>miyi>n, no. 16374

[22] H.S.R. Muslim, kitab Fad}a'il al-S{ah}a>bah no. 4425, dan Ahmad dalam kitab Musnad al-Ku>fiyi>n no. 18474

[23] H.R. al-Tirmidhi dalam kitab Mana>qib no. 3720

[24] Wanita dari keturunan Ba Alwi.

[25] Jawaban ini kemudian di kenal dengan istilah “Fatwa Solo”

[26] Ahmad ibn Mahfoed, Menjelang 60 tahun berdirinya Yayasan Perguruan al-Irsyad.(Surabaya :Yayasan Perguruan al-Irsyad Surabaya. 1981), 18-19

[27] Q.S. ali Imran : 187

[28] Q.S. al-Baqarah : 159-160

[29] Q.S. al-Nisa : 59

[30] Q.S. al-Syura : 10

[31] Q.S. al-Hasyr : 7

[32] Q.S. ali Imran : 31

[33] Q.S. al-Hujurat : 13

[34] Tirmidhi dalam kitab al-Qira’at no. 2869, Abu Daud dalam kitab al-‘Ilmu no. 3158,ibn Majah dalam Muqaddimah no. 221, Ahmad dalam Ba>qi> Musnad al-Mukthiri>n no. 7118, dan Darimi dalam Muqaddimah no. 348,359.

[35] H.R. Ahmad dalam Musnad Shamiyi>n, hadits no. 16675

[36] ibid , no. 16803

[37] Ahmad dalam Ba>qy> Musnad al-Ans}a>r, no. 22391

[38] bahwa agama Islam membenarkan akan pemahaman ini

[39] Bukhari kitab al-S{ulh} no.2499 dan Muslim dalam kitab al-Aqd}iyyah no. 3242

[40] Ibn Kathi>r, Tafsi>r al-Qur’a>n al-‘Az}i>m, Vol. II, tafsir surat al-Ahzab : 33

[41] Shams al-Di>n Muhammad al-Dhahaby, Siyar a'la>m al-Nubala>’ :(Beirut: Mu’assasah al-Risa>lah, 1414)II, 276-277

[42] H.S.R. Muslim, dalam kitab al-T}ala>q no. 1480 (3697)

[43] Shams al-Di>n Muhammad al-Dhahaby, Siyar a'la>m…, II. 250-252

[44] Shams al-Di>n Muhammad al-Dhahaby, Siyar a'la>m…, III, 500

[45] ibn Qayyim al-Jawziyyah, Za>d al-Ma’a>d,(Beirut: Mu’assasah al-Risa>lah, 1421) V,145

[46] H.S.R. al-Bukha>ri no. 5088.

[47] H.R. al-Tirmidhi dalam dalam sunan beliau, hadits no. 1085, dengan derajat hasan sebagaimana dijelaskan oleh al-Albany dalam Sunan Tirmidhi(Riyadh : Maktabah al-Ma’a>rif, tt) cet. I.

[48] Q.S. al-Nisa : 115

[49] Q.S. ali Imran : 85

[50] Q.S. al-Maa’idah : 45

[51] H.S.R. al-Bukhari dalam kitab al-Nika>h} no. 4700, Muslim dalam kitab al-Rid}a>’ no. 2661

[52] Dapat dirujuk lebih terperinci dalam Must}ofa> al-'Adawy>,Ja>mi' Ah}ka>m al-Nisa>' (Kairo : Da>r ibn 'Affa>n, 1419 H) vol. III, 255-290

[53] H.S.R. Muslim dalam kitab Fad}a'il no. 4221, dan Tirmidhi dalam kitab Mana>qib 3605

[54] Lihat pada contoh-contoh kisah pada halaman 13-14

[55] ‘Alla’u al-Di>n Abi> Bakr ibn Mas’u>d al-Ka>sa>ni>(587H), Bada>’i'u al-S{ana>’i' fi> Tarti>b al-Shara>’i' , (Beirut: Da>r al-Kutub al-‘Arabi, 1410 H), II. 320

[56]Burhan al-Di>n ‘Ali> ibn Abi> Bakr al-Murghi>na>ni>, al-Hida>yat Sharh}u Bida>yat al-Mubtadi>, yang di cetak bersama Sharah}nya Fath} al-Qadi>r oleh Ibn Huma>m(Kairo : al-Maktabah al-Tija>riyah al-Kubra>, 1401 H), II. 422

[57] Abu al-Baraka>t Si>di> Ah}mad al-Dirdi>r, Syarh} al-Kabi>r, (t.p: Da>r al-Ihya>’ al-Kutub al-‘Arabiyyah, t.t) II, 249

[58] Muh}ammad ibn Idri>s al-Sha>fi’i , al-Umm, (Beirut : Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1413 H )V.29

[59] Abu Is}haq Ibra>hi>m ibn ‘Ali> al-Shi>ra>zi>, al-Muhadhdhab fi> Fiqh al-Ima>m al-Sha>fi’i>. (Kairo: Mus}t}ofa al-Ba>bi> al-H}alibi>, tt) Vol. II. 50, lihat pula Ibra>hi>m al-Ruhayli, Mawqif Ahl al-Sunnah wa al-Jama>’ah min Ahl al-Ahwa>’ wa al-Bida’ (Madinah : Maktabah al-‘Ulu>m wa al-H{ikam, 1422 H), Vol. I. 374

[60] Ibn Quda>mah al-Maqdisi>, al-Mughni>, tah}qi>q : ‘Abdullah ibn ‘Abd al-Muhsin al-Turky(Kairo: Hajru li> al-T{iba>’ah wa al-Nashr, 1406 H)cet. 1, IX.391

[61] H.S.R Muslim dalam kitab al-T}ala>q , no. 1480 (3697)

[62] Q.S. al-Nuur : 32

[63] Dan yang lainnya, lihat lebih lanjut pada rujukan footnote no. 4 pada halaman 13

Tidak ada komentar:

Posting Komentar