Lembaga Pendidikan Islam : Madrasah
Asal-usul dan perkembangannya dalam dunia Islam
I. Sejarah munculnya madrasah :
Pada sekitar tahun 459 H ketika sekian banyak kesadaran masyarakat Islam untuk menuntut ilmu dan pengetahuan, sehingga pada tahun ini pula dibuka sebuah lembaga pendidikan (dari sekian banyak lembaga pendidikan yang akan berdiri dan berkembang) di Baghdad oleh sang perintis al-waziir(menteri) dari Raja al-Saljuqy al-‘Adzhim yang bernama Nidzham al-Mulk. Sehingga dari awal pendirian lembaga pendidikan ini dalam waktu yang relative singkat banyak berdiri sekian banyak lembaga pendidikan lainnya hingga menyebar sampai ke seluruh pelosok negeri(Baghdad) atau bahkan hingga pada pelosok desa-desa kecil yang ada[1].
Sebelum berdirinya lembaga pendidikan resmi, lembaga pendidikan non formal sesungguhnya telah lama berjalan di kalangan masyarakat Islam di berbagai penjuru negeri yang ada. Sekian banyak halaqah-halaqah yang telah berjalan dalam rangka menyebarkan dan mengajarkan ilmu dan pengetahuan kepada masyarakat yang ada. Diantara tempat-tempat non formal yang mereka pergunakan dalam proses belajar mengajar adalah masjid-masjid, atau rumah orang-orang alim, took-toko penjual buku, perpustakaan, dan lain sebagainya.
Saat semakin menyebar dan berkembangnya lembaga pendidikan formal sepeti madrasah yang dirintis oleh Nidzham al-Mulk, semakin besar kesempatan emas bagi para pengajar dalam rangka menebarkan dan mengajarkan ilmu pengetahuan, demikian pula bagi para pelajar yang memiliki semangat yang besar dalam menuntut ilmu dan pengetahuan untuk menyalurkan apa yang mereka cita-citakan melalui sarana madrasah ini. Sehingga peminat pelajar dan pengajar yang sebelumnya mereka menyalurkan keinginan mereka dalam trasnformasi ilmu dan pengetahuan melalui sarana non formal(masjid-masjid, atau rumah orang-orang alim, toko-toko penjual buku, perpustakaan, dan lain sebagainya) semakin menipis dan berkurang secara signifikan. Mereka lebih condong untuk menggunakan sarana pendidikan formal(madrasah) dalam rangka transformasi ilmu dan pengetahuan.
II. Tempat transformasi ilmu dan pengetahuan sebelum berkembangnya madrasah
Pusat-pusat keilmuan pada masa Islam klasik terbagi menjadi dua, yaitu :
II. 1. Pusat keilmuan yang berada di luar istana, diantaranya :
a. al-Kuttab tempat pembelajaran membaca dan menulis(pemberantasan buta huruf)
al-Kuttab merupakan sarana transformasi ilmu dan pengetahuan yang pertama kali berkembang di masyarakat sebelum datangnya Islam, walaupun perkembangannya bisa dikatakan sangatlah lambat. Dikisahkan bahwa awal mula yang mengajarkan ilmu membaca dan menulis arab di kalangan masyarakat Makkah adalah Sufyan ibn Umayyah ibn Abdi al-Syams, kemudian Abu Qays ibn Abd al-Manaf ibn Zahrah ibn Kilaab, yang mereka berdua belajar dari Basyr ibn abd al-Mulk yang belajar dari al-Hiirah. Ibn Khaldun meriwayatkan bahwasanya yang mempelajari tata cara menulis pertama kali kepada al-Hiirah adalah Sufyan ibn Umayyah, atau dikatakan pula bahwa yang pertama belajar adalah Harb ibn Umayyah yang mengambil ilmu dari Aslam ibn Sidrah.[2] Di kemudian hari-ya akhirnya banyak orang-orang Makkah yang mempelajari ilmu membaca dari sekian banyak masyarakat negeri sekitar ketika mereka melalui negeri-negeri tersebut dalam perjalanan perdagangan mereka. Dikisahkan pula bahwa orang yang pertama kali mengajarkan ilmu al-Khat(menulis) di jazirah Arab adalah seorang lelaki dari lembah al-Qura yang kemudian mengajarkan ilmu ini kepada masyarakatnya.[3]
Dari inilah awal perkembangan pengajaran baca dan tulis di jazirah Arab, akan tetapi sangat disayangkan bahwa perkembangan pendidikan baca dan tulis ini sangtlah lambat, hal ini terbukti ketika datangnya Islam, diketahui bahwa jumlah orang Quraisy yang dapat membaca dan menulis hanya berjumlah 17 orang.[4] akan tetapi dengan datang dan menyebarnya Islam di jazirah Arab, yang membawa misi dan visi khusus baik dalam masalah ubudiyah hingga dalam masalah perpolitikan membawa dampak yang khusus bagi umat Islam untuk lebih termotivasi dalam mempelajari ilmu membaca dan menulis. Kemudian dengan semakin berkembangnya ilmu dan pengetahuan Islam terlebih dalam ilmu periwayatan hadits Nabi r yang membutuhkan kemampuan seorang rawi untuk bisa membaca dan menulis. Bahkan tidaklah seseorang disebut sebagai kalangan periwayat hadits Nabi yang credible sehingga seorang rawi itu memiliki kemampuan menghafal, kemudian ia tuangkan dalam bentuk tulisan, sehingga kemampuan baca dan tulis tersebut menjadi tolok ukur utama bagi periwayat ketika seseorang menilai kapasitas hafalan dan kredibilitas yang dimiliki oleh sang rawi.[5]
Rasulullah r memberikan perhatian yang sangat besar terhadap ilmu membaca dan menulis bagi umat Islam, hal ini dapat kita lihat dari kisah perang Badar. Dalam perang Badar ini umat Islam mengalami kemenangan sehingga banyak dikalangan masyarakat musyrik Makkah yang menjadi tawanan perang. Kemudian Rasulullah r memberikan sebuah kebijaksanaan kepada tawanan tersebut yang memiliki kemampuan membaca dan menulis untuk menebus diri mereka dengan cara mengajarkan kemampuan membaca dan menulis kepada umat Islam. [6]
Syaikh Ahmad Amin menjelaskan pula bahwasanya peran al-kuttab yang merupakan lembaga pendidikan non formal ini sangatlah besar, mereka menggunakan rumah para guru/Syaikh untuk mempelajari tata cara membaca al-Quran dengan cara yang benar, kemudian tata cara menulis, selain itu pula mereka mempelajari ilmu bahasa dan berbagai hal yang berkaitan dengannya. [7]
b. Al-Kuttab sebagai tempat pembelajaran membaca al-Quran dan dasar-dasar ilmu agama
Keberadaan kuttab sebagai tempat pengajaran ilmu al-Quran pada awal Islam merupakan salah satu tujuan para orang tua untuk mendidik anak mereka sebagai generasi Qurani.
c. Toko/pasar buku milik para penulis dan penyair(حوانيت الوارقين)
Perkembangan toko dan pasar buku sejak berdirinya dinasti Abbasiyah sangatlah pesat, keberadaan pedagang buku tersebut tidaklah hanya mencari keuntungan perdagangan belaka. Mayoritas pedagang tesebut adalah orang-orang ahli sastra Arab yang memiliki pengetahuan luas tentang ilmu dan pengetahuan. al-Imam ibn al-Jawzy (597 H) mengibaratkan bahwa : “pasar kertas di Baghdad pada zamanku tidaklah hanya sekedar pasar belaka, akan tetapi di pasar tersebut merupakan tempat berkumpul para ulama’ dan para ahli sastra(penyair)”.[8]
d. Rumah para Ulama
Penggunaan rumah para ‘Alim(Ulama’) adalah sangat dikenal pada era sebelum Islam hingga pada masa kedatangan Islam dan sesudahnya. Tradisi ini berlangsung cukup lama, dan bahkan banyak ditemukan hingga saat ini beberapa ‘Alim yang mengajarkan atau memberikan transformasi keilmuan kepada para muridnya di rumah mereka.
e. al-S{a>lu>na>t al-Adabiyyah (الصالونات الأدبية)
al-S{a>lu>na>t al-Adabiyyah merupakan salah satu tempat orang-orang dalam mempelajari ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan al-Islam dan bahasa Arab. al-S{a>lu>na>t (الصالونات ) merupakan bentuk jama’(plural) dari kata (الصالون ) yang memiliki arti sebuah ruangan atau rumah tempat berkumpulnya para sastrawan dan penyair Arab dalam mengaplikasikan ilmu yang dimiliki. Selain itu di tempat ini pula mereka (para sastrawan dan penyair Arab) saling berdiskusi dan tukar pendapat tentang ilmu dan pengetahuan yang mereka miliki. [9]
Banyak para pemikir dan sastrawan Islam yang berbicara tentang al-S{a>lu>na>t al-Adabiyyah, diantara mereka adalah ibn Abdi Rabbih[10], al-Maqiry, dan al-Maqri>zy>.
f. Al-Badiyah(desa-desa)
Desa-desa terpencil sangat mambantu dalam penyebaran ilmu pengetahuan terutama yang berkaitan dengan bahasa dan sastra Arab. Mengingat banyaknya kesalahan penggunaan bahasa Arab(yang banyak dikenal dengan istilah – اللحن – al-lahn) yang merupakan dampak dari interaksi masyarakat Arab dengan masyarakat non Arab dalam dunia perdagangan mereka. Sehingga keberadaan desa-desa yang masih menggunakan dan mengenal betul akan bahasa Arab yang benar (lepas dari kesalahan nahwu/al-lahn) sangatlah dibutuhkan dan dijadikan sebagai lahan rujukan terhadap kesalahan bahasa yang terjadi di masyarakat pada saat itu. Bahkan diriwayatkan bahwasanya seorang laki-laki salah dalam menggunakan tata bahasa Arab pada zaman Nabi r, ketika beliau mendengar kesalahan tersebut, sambil bersabda :
أَرْشِدُوْا أَخَاكُمْ فَقَدْ ضَلَّ
“Tunjukilah(benarkan) saudara kalian, sesungguhnya ia salah”[11]
g. Masjid
Sejarah Islam mencatat akan keutamaan yang dimiliki oleh masjid sangatlah besar, disamping sebagai sarana ibadah, masjid juga bersfungsi sebagai sarana transformasi ilmu dan pengetahuan yang berkaitan dengan agama Islam. Sekian banyak halaqah-halaqah yang terbentuk sebagai salah satu wadah pendidikan non formal pada awal penyebaran Islam, dan berjalan sesuai dengan perkembangan waktu hingga berlangsung dari tahun-ketahun atau bahkan dari abad ke abad yang berikutnya.
II.2 Pusat keilmuan yang berada di dalam istana
Banyak ditemukan sekian banyak riwayat yang menceritakan bagaimana para penguasa(Khalifah) Islam mendatangkan beberapa pengajar(mu’alimin) untuk mengajarkan kepada anak-anak mereka sekian banyak ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan al-Quran, Hadits, Adab(sastra), suluk, akhlaq dan yang lainnya. Sebagaimana kisah Abdul Malik ibn Marwan ketika memberikan wasiat kepada al-Muaddib(pengajar) anaknya dengan mengatakan:
عَلِّمْهُمُ الصِّدْقَ كَماَ تُعَلِّمُهُمُ القُرْآنَ
Ajarkanlah kepada mereka al-Shidq(kejujuran), sebagaimana engkau mengajarkan kepada mereka al-Quran.
III. Tenpat Transformasi ilmu dan pengetahuan formal : Madrasah
III. 1. Sebab perpindahan pola belajar-mengajar dari Masjid ke madrasah[12]
Tidak diragukan lagi akan besarnya semangat yang dimiliki oleh generasi Islam dalam menuntut ilmu ketika awal Islam, dan seiring perkembangan zaman dan Islam, kesadaran akan pentingnya menuntut ilmu semakin besar pula. Banyak ditemukan halaqah-halaqah pengajaran ilmu di sekian banyak masjid yang tersebar pada saat itu. Secara otomatis dengan banyaknya halaqah berkaitan pula dengan semakin banyaknya para pengajar dan santri yang diajarkan ilmu oleh sang pengajar tersebut. Tidak adanya kelas/pembatas menyebabkan penyelenggaraan pendidikan di masjid sangat mengganggu(masjid menjadi gaduh dan bising akibat terdengar suara pengajar dan sekian banyak santri) bagi orang lain yang ingin melaksanakan ibadah di dalamnya, baik itu berupa memperpanjang waktu shalat, dzikir, dan lain sebagainya. Walaupun gangguan yang ditimbulkan di dalam masjid sebenarnya tidak signifikan, akan tetapi secara tidak langsung akan merubah fungsi utama masjid yaitu sebagai tempat beribadah, shalat, dzikir, dan yang lainnya.
Sebab yang berikutnya, dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan beserta cabang-cabang yang dimiliki, sebagaimana contoh ilmu kalam. Ilmu ini membutuhkan waktu khusus bagi pengajar ataupun siswa untuk menggunakannya sebagai latihan berpidato, musyawarah, debat dan lainnya. Akhirnya semakin menambah jam penggunaan masjid sebagai tempat belajar dan mengajar.
Sebab lainnya adalah timbulnya orientasi baru dalam penyelenggaraan pendidikan. Sebagian guru mulai berfikir untuk mendapatkan rezki melalui institusi pendidikan, dan diksahkan sebagian besar dari mereka ada yang pekerjaannya sepanjang hari adalah mengajar. Oleh karena itu mereka berusaha untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka melalui jalur pendidikan yang tidak mungkin di dapatkan di masjid.
Akhirnya didirikannya madrasah sebagai pengganti lokasi tempat menuntut ilmu yang baru dan mengembalikan masjid kepada fungsi awalnya.
Dalam penelitian Makdisi, ia mengatakan keberadaan pendirian madrasah terutama madrasah nizhamiyyah yang didirikan oleh Nidzham al-Mulk adalah tidak terlepas dari kepentingan politik Negara pada saat itu. Mengingat pesatnya dan menyebarnya perkembangan pemahaman syi’ah di kalangan dinasti fatimiyyah di Mesir, perkembangan pemahaman syi’ah ini di anggap cukup membahayakan keberadaan pehamanan resmi yang di anut oleh dinasti al-Saljuqy. Dimana pemahaman resmi pada saat itu adalah pemahaman ‘Asy’ariyyah dan Syafi’iyyah. Sehingga terdapat tiga tujuan utama dalam penyelenggaraan madrasah yaitu :
- Pengadaan kader-kader pengajar dan santri ahlu al-Sunnah yang mumpuni keilmuan dan pemahamannya dalam menghadapi kaum syi’ah,
- Membendung berkembangnya pemahaman syi’ah,
- Dan menyiapkan tenaga kerja yang berpehamanan ahlu al-Sunnah sebagai karderisasi ketika mereka bekerja di instansi pemerintahan dynasti Saljuqy.
Perlawanan terhadap kaum Syi’ah tidak cukup dengan perlawanan senjata semata, tapi juga dengan penanaman ideology yang kokoh sehingga dapat membantah dan melawan ideology kaum Syi’ah.
Pertimbangan seperti ini dilakukan karena Syi’ah sangat aktif dan sistematik dalam melakukan indoktrinasi melalui pendidikan atau aktivitas pemikiran orang lain.
III. 2. Madrasah Nidzhamiyyah
Makdisi mengajukan teori bahwa perkembangan madrasah melalui tiga tahapan, yang pertama masjid, masjid Khan, dan madrasah itu sendiri.[13] Tahap masjid berlangsung mulai dari abad ke delapan hingga pada abad ke sembilan, yang menfungsikan masjid selain sebagai tempat shalat juga sebagai tempat majelis ta’lim. Tahap kedua adalah masjid Khan, yaitu masjid yang dilengkapi dengan sarana al-khan(berupa asrama dan pondokan bagi para santrinya, yang dilengkapi pula dengan toko yang memenuh kebutuhan guru dan siswa). Tahap ini sangat representative bagi para murid yang berasal dari daerah yang jauh sehingga memudahkan mereka dalam menuntut ilmu yang mereka inginkan. Menurutnya(Makdisi) pada zaman Badr ibn H{asanawayh al-Kurdi(w.1015 M) sewaktu menjadi Gubernur di kawasan Adud al-Daulah telah mendirikan masjid al-khan ini berjumlah tidak kurang dari 3.000 buah.[14]
Baru setelah dua tahap di atas, didirikan madrasah sebagai institusi pendidikan resmi yang dikhususkan sebagai tempat atau sarana belajar mengajar. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwasanya madrasah merupakan penggabungan dan penyempurnaan dua system pendidikan sebelumnya yaitu masjid dan masjid al-khan. Walaupun dalam hal ini teori makdisi di bantah oleh Syaikh Ahmad Syalabi sebagaimana penjelasan di atas yang menjelaskan bahwa perkembangan pendidikan dari masjid ke madrasah tidak melalui tiga tahapan, akan tetapi langsung dua tahapan(masjid dan madrasah). Selain itu pendirian madrasah Nidzhamiyyah adalah sebagai pembatas, untuk membedakan dengan era pendidikan sebelumnya.[15] Era baru yang dimaksud adalah terletak pada ketentuan-ketentuan yang lebih jelas yang berkaitan dengan komponen-komponen pendidikan dan pada keterlibatan pemerintah dalam pengelolaan madrasah. Walaupun dalam keterkaitan pemerintah terhadap pengelolaan madrasah di bantah oleh George Makdisi, akan tetapi yang perlu kita perhatikan bahwasanya keberadaan Nizam al-Mulk pada saat itu adalah seorang waziir yang masih sangat aktif dalam pemerintahan Raja al-Saljuqy. Sehingga Abd al-Majid Abd al-Futuh menyatakan :
“dari kajian tentang pertumbuhan madrasah Nidzhamiyyah dan mengikuti sejarah perkembangannya, kami dapat menentukan tiga tujuan utamanya. Pertama: menyebarkan pemahanman sunni untuk menghadapi tantangan pemikiran Syi’ah. Kedua: menyediakan para guru dari kalangan sunni yang cakap dan handal untuk mengajarkan madzhab sunni dan menyebarkannya di tempat lain. Ketiga: membentuk kelompok kerja dari kalangan pekerja sunni untuk berpartisipasi dalam menjalankan pemerintahan, memimpin kantornya, khususnya di bidang peradilan dan manajemen”.[16]
Dari penjelasan di atas dapat sekian banyak motivasi yang mendasari kelahiran madrasah , yaitu selain motivasi agama, dan motivasi ekonomi, karena berkaitan dengan ketenaga kerjaan, juga memotivasi politik. Dengan berdirinya madrasah, maka pendidikan Islam memasuki periode baru yaitu :”Pendidikan menjadi fungsi bagi Negara, dan sekolah-sekolah dilembagakan untuk tujuan pendidikan sectarian dan indoktrinasi politik”.[17]
Kebijakan yang terjadi pada kasus madrasah nidzhamiyyah ini ternyata masih dilanjutkan oleh pemerintah berikutnya, yaitu pemerintahan al-Mustanshir, Nuruddin Zanki, dan Shalahuddin al-Ayyubi. Dan modelnya mereka ini mengikuti jejak Nidzham al-Mulk, dengan memasukkan kepentingan-kepentingan di atas ke dalam peran madrasah.
III. 3. Lembaga waqaf dalam keberadaannya di madrasah Nidzhamiyyah[18]
Keberadaan lembaga waqaf dalam perannya di lingkup madrasah sangatlah besar. Ibn Taimiyyah menjelaskan akan keberadaan objek lembaga waqaf yang meliputi madrasah, masjid, khawanik(semacam biara/pesantren), masjid Jami’, rumah sakit, ribat, shadaqah, pembebasan budak perang, dan lain sebagainya dari objek waqaf. Kaum muslimin waktu itu memiliki sekian banyak faktor yang mendorong mereka dalam menegakkan lembaga waqaf ini diantara motivator tersebut adalah : 1. Upaya pendekatan diri kepada Allah U, 2. Motivasi dalam diri pribadi sebagai bentuk Ihsan kepada orang lain.
Lembaga ini dipercayakan kepada seorang yang amin(amanah) dengan sebutan al-Mutawalli. Dengan klasifikasi hendaknya ia adalah seorang yang beragama Islam, memiliki tanggung jawab moral yang besar, dapat melaksanakan tugas / memiliki kemampuan, adil(tidak memiliki record(catatan) kejahatan atau pelanggaran moral. Lembaga ini juga sangat membantu dalam kesuksesan kegiatan belajar-mengajar.
III. 4. Syistem : setiap elemen pendidikan yang menyatu dalam mewujudkan tujuan pendidikan di madrasah Nidzhamiyyah[19]
1. Pembagian divisi ilmu pengetahuan :
- Ibn Butlan(salah satu tokoh Islam ahli kedokteran w.460H/1068M) dan pembagian tiga divisi ilmu pengetahuan yaitu, Ilmu-ilmu(yang berkaitan dengan) Islam, Filsafat dan ilmu alam, kemudian seni kasusasteraan.
- Subordinasi dari ilmu seni kasusasteraan
- Badan Waqaf dan pembagian secara garis besar menjadi dua dalam divisi ilmu pengetahuan, yaitu pertama: institusi pembelajaran yang menganut pemahaman klasik/tradisional, mengacu dan mengfokuskan pembelajaran pada ilmu agama Islam. Yang kedua: institusi pembelajaran yang mengikuti perkembangan zaman terhadap ilmu pengetahuan.
2. Manajemen Pembelajaran
- Kurikulum,
Yang mengikuti tahapan pembelajaran dasar utama agama Islam, yaitu al-Quran, hadith, ulum al-Quran, ulum al-hadith,ushul al-din dan ushul al-Fiqh dan pengembangan ilmu-ilmu yang lainnya.
- Penataan kelas/ruangan belajar mengajar
i) Penataan posisi guru dan murid di kelas, dijelaskan oleh Abu Sa’d al-Mutawalli (yang akhirnya beliau menjadi seorang guru besar di madrasah nidzhamiyyah) selama beliau belajar di madrasah tersebut, pada awal mulanya beliau duduk di belakang. Saat Syaikh yang mengajar adalah Abu al-Harith ibn Abi al-Fadl al-Sarakhsi, banyak pertanyaan yang dilontarkan dan beliau(Abu Sa’ad) jawab dengan tegas, lugas, dan tepat. Sehingga pada hari berikutnya sang guru memintanya agar duduk senantiasa dekat dengan beliau bahkan dikemudian hari ia(Abu Sa’d) duduk berada di samping sang guru. Hal ini mengindikasikan penataan tempat duduk murid adalah sang guru yang menentukan.[20]
ii) Fungsi dari pengaturan kelas menurut versi sang guru. Banyak dijelaskan bahwa fungsi pengaturan tersebut adalah penataan komunikasi guru kepada murid keseluruhan yang disesuaikan dengan kemampuan daya tangkap dari masing-masing murid yang ada. Para murid yang cerdas duduk di depan dekat dengan sang guru, agar bagi murid yang memiliki kecerdasan kurang dapat mengambil transformasi keilmuan pada lapisan yang kedua(kepada murid cerdas/senior) dalam menjelaskan keterangan guru lebih lanjut kepada mereka yang ‘kurang’[21].
iii) Berdoa di dalam kelas
Kegiatan belajar mengajar di kelas diawali dan diakhiri dengan memanjatkan doa kepada sang pencipta(Allah). Hal ini diindikasikan sebagai bentuk mengharapkan berkah agar ilmu yang didapatkan dapat bermanfaat dan berguna.[22]
- Pengaturan jadwal harian proses belajar mengajar, dan hari libur
Kamal al-Din ibn al-Zamlakani(w.727H/1327M) mengisahkan bahwa hari-hari belajar adalah hari Sabtu hingga Rabu, dan libur pada hari Kamis dan Jumat. Selain liburan dua hari pada setiap minggu juga ada liburan khusus pada bulan suci Ramadhan, bahkan juga ada bulan khusus yang libur penuh di dalamnya yaitu Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan.[23]
- Pengaturan lama study
Pengaturan lama study tidak terbatas kepada ketentuan waktu yang ada, selain empat tahun study untuk menyelesaikan ilmu dasar Syari’ah Islam. Seseorang dapat melanjutkan studynya ke berbagai tempat dan mempelajari berbagai ilmu lainnya sesuai dengan apa yang ia inginkan tanpa ada batasan waktu. Dalam hal ini sekian banyak kisah para tokoh Islam yang menghabiskan waktunya untuk menuntut ilmu pengetahuan tanpa mengenal rasa lelah. [24]
4. Metodologi Belajar/menuntut ilmu[25]
Metodologi para penuntut ilmu komunitas muslimin dapat dijelaskan sebagai berikut :
a Sistem Hafalan, merupakan salah satu system tertua dalam mendapatkan dan menyimpan ilmu seseorang agar tidak hilang. Cara seperti ini sangat dikenal di dunia Islam terutama pada awal sebelum datangnya Islam dan setelah kedatangannya.
b Cara kedua adalah dengan cara me-repeat- atau dengan kata lain mengulang-ulang apa yang telah diperoleh dari ilmu dan pengetahuan agar lebih mantap dan tetap hafalan tersebut di dalam ingatan.
c Cara ketiga adalah memahami ilmu yang telah diperoleh, Karena tidak semua ilmu yang telah diperoleh dan dihafalkan difahami dengan benar sesuai dengan apa yang diinginkan oleh ilmu tesebut.
d Mudzakara adalah cara keempat yang ‘agak mirip’ dengan cara yang pertama, yang membedakan adalah cara ini selain menghafal juga memahami ilmu pengetahuan yang dipelajari.
e Mengikat hafalan dan pemahaman dengan menulis, sebuah cara yang sangat dibutuhkan oleh setiap penuntu ilmu yang memiliki kekuatan hafalan dan pemahaman ‘agak kurang’, walaupun cara ini juga sangat dibutuhkan bagi penuntut ilmu yang cerdas.
5. Komunitas Madrasah
a Professor atau yang dikenal juga dengan istilah mudarris/pengajar atau Syaikh adalah sebuah sebutan bagi orang yang memiliki keahlian di dalam suatu atau sekian banyak ilmu pengetahuan.
i. Status didalam komunitas madrasah adalah sangat penting, selain itu ia berfungsi sebagai penunjuk dan pengangkat para guru dan asisten guru yang layak untuk menggantikan tugas mengajar yang diembannya apabila sang guru berhalangan. Diantara pengajar yang sangat terkenal di dalam madrasah nidzhamiyyah dan mengangkat keberadaan madrasah ini adalah Imam al-Ghazali.
ii. Honor yang didapatkan adalah berasal dari pembayaran infaq/iuran para murid, dana pensiun, bantuan gaji, dan anggaran belanja madrasah.
b Murid, yang memiliki sekian banyak klasifikasi, antara lain :
Secara relative pembagian murid ada tiga macam, sebagai pemula- al-mubtadi’, mutawasith(intermediate), dan kelas akhir(muntahin). Kemudian sebagai santri/siswa yang menerima beasiswa, dan sebagai santri/siswa yang menguasai dasar-dasar ilmu yang disebut dengan istilah mutafaqqih dan faqih.
c Tempat tugas masing-masing jabatan pada madrasah dan fungsi yang diemban.
Pengaturan tempat tugas dan fungsional masing-masing jabatan telah di atur, professor, dosen/mudarris, asisten guru, pegawai dan lain sebagainya. Kesemuanya bertujuan untuk keberlangsungan dan kelancaran proses belajar dan mengajar di madrasah Nidzhamiyyah.
IV. Beberapa Madrasah lain yang berdiri berikutnya
Selain madrasah Nidzhamiyyah, juga terdapat dan tercatat beberapa madrasah yang lain diantaranya :
- Mada>ris(beberapa madrasah) yang didirikan oleh Nu>r al-Di>n Zanky> di Damaskus yang berjumlah lebih dari 5 buah. Di kota Damaskus sendiri berjumlah 5 buah madrasah antara lain : Madrasah Da>r al-Hadi>th al-Na’i>miy, al-Shalahiyyah, al-‘Imadiyyah, al-Kilasah, dan al-Nuriyyah al-Kubra. Selain di Damaskus ada beberapa Madrasah lainnya yang berdiri di lain lokasi yang berjumlah 8 buah.
- Mada>ris yang didirikan pada masa al-Ayyu>biy dan memiliki sekian banyak madrasah yang mempelajari sekian banyak ilmu pengetahuan dan tidak hanya terikat kepada ilmu agama semata(yang juga mempelajari ilmu-ilmu umum dan sains misalnya ilmu kedokteran). Madrasah ini berjumlah lebih dari 16 buah dan menyebar di beberapa penjuru negeri seperti Mesir, Bait al-Maqdis(Palestina), Damaskus dan lain sebagainya.
- Madrasah al-Nuriyyah al-Kubra adalah salah satu madrasah yang berdiri pula setelah madrasah nidzhamiyyah, awal berdiri lembaga pendidikan ini adalah untuk pengajaran ilmu syari’ah dalam lingkup madzhab Imam Abu H{ani>fah al-Nu’ma>n.
V. Tradisi keilmuan madrasah :
Tercatat di dalam sejarah, bahwa segera setelah wafatnya Rasulullah r persoalan yang timbul pertama kali dalam Islam adalah persoalan politik. Yang kemudian berawal dari persoalan ini merembet dan berkembang menjadi persoalan teologi.[26] Ini berarti bahwa persoalan politik yang timbul mendahului perkembangan pemikiran, atau dengan kata lain yang menjadi pendorong perkembangan pemikiran dalam Islam adalah masalah politik.
Latar belakang sejarah yang demikian itu ternyata sangat mempengaruhi perkembangan pendidikan dan ilmu pengetahuan dalam Islam untuk masa selanjutnya. Dalam hal ini dominasi politik telah menentukan bentuk pendidikan dan corak ilmu pengetahuan yang dikembangkan dan diajarkan di dalamnya. Telah disinggung di atas latar belakang didirikannya madrasah Nidzhamiyyah oleh Nidzham Mulk, dengan dipilihnya model madrasah dengan corak keilmuan sunni karena alasan-alasan politik tertentu. Kuatnya pengaruh tersebut juga dapat difahami dari cara pemikir Islam dalam menjelaskan institusi pendidikan Islam.
Pendidikan Islam dalam perjalanannya sangat dipengaruhi oleh dua arus pergumulan, dalam bidang politik dan bidang pemikiran yang keduanya sangat berkaitan satu sama lain. Terlebih lagi pada awal abad ke tiga hijriyah terdapat pertentangan antar pemikiran dalam Islam yang semakin tajam. Pendidikan dalam hal ini dijadikan sebagai alat/sarana arena pergumulan tersebut. Uraian sebelum ini mengenai tujuan madrasah nidzhamiyyah telah menampakkan dengan jelas keadaan tersebut. Gambaran seperti ini paling tidak dapat dilihat dari usaha para pemikir pendidikan Islam dalam menjelaskan sejarah dan perkembangan pendidikan Islam sebagaimana dikemukakan di bawah ini.
Majid ‘Irsan al-Kaylany membagi pola-pole pendidikan Islam menjadi empat, dengan berdasarkan pada aliran pemikiran yang timbul di dalam Islam. Pola tersebut adalah : Madrasah al-Fuqaha>’ wa al-Muhaddithi>n, Madrasah al-S{u>fiyyah, madrasah al-Fala>sifah wa al-‘Ulu>m al-Tarbiyyah, dan Madrasah al-us{u>liyyi>n wa ‘ilm al-kala>m.[27] Lain lagi dengan Hasan Abd al-‘Al membagi menjadi lima,yang juga berdasarkan kepada aliran pemikiran Islam tetapi dengan memasukkan kecenderungan aliran politik seperti : Madrasah al-Mu’tazilah, Madrasah al-Ikhwan al-S}afa, al-Madrasah al-Fala>sifah, al-Madrasah al-S}u>fiyyah, dan al-Madrasah al-Fiqhiyyah.[28] Permisalan antara Ikhwa al-Safa dengan Madrasah Falasifah lebih menunjuk pada kecenderungan politik jika dikaitkan dengan hubungan perseteruan antara Ikhwan al-Safa yang berafiliasi ke Syi’ah, dengan pemerintahan Abbasiyyah di Baghdad yang memiliki kecenderungan ke Filsafat.
Diantara salah satu bentuk pengaruh dari adanya pergumulan bidang politik dan pemikiran itu adalah banyaknya dijumpai tempat-tempat pendidikan yang khusus dan sekaligus merupakan ciri aliran pemikiran tertentu. Sebagai contoh adalah Da>r al-H{ikmah lebih menunjuk kepada pola pemikiran pendidikan filsafat, bahkan sebagian adalah pengikut Syi’ah. Al-Zawaya dan al-Ribat adalah khas Shufi, sedangkan madrasah pada awalnya adalah lembaga pendidikan yang didukung oleh ulama’ Fiqih dan H{adi>th.[29]
Adanya keaneka ragaman pola pendidikan yang dikarenakan masing-masing pola pemikiran (dan tujuan politis yang diusung didalamnya) memiliki karekter tertentu, sehingga menjadikan tempat-tempat atau lembaga pendidikan tertentu memiliki system pengajaran yang khusus pula.
VI. Pengaruh yang diberikan oleh peran madrasah.[30]
Sebagai suatu ide, madrasah memiliki peran yangsangat penting dan luas serta monumental. Al-Dailami menyatakan: “pendirian universitas-universitas di Barat adalah sebagai hasil dari hasil inspirasi dan pengaruh yang diberikan oleh madrasah nidzhamiyyah”.[31] Pernyataan ini pula diperkuat oleh Makdisi dalam beberapa tulisannya yang membuktikan bahwa tradisi akademi Barat secara historis mengambil banyak keuntungan dari tradisi madrasah.
Di dunia Islam, besarnya pengaruh madrasah merupakan fenomena umum. Madrasah pada masa klasik merupakan model umum dan standart untuk pendidikan Islam tingkat menengah setelah al-kutta>b/kata>tib. Dalam kaitan ini, keter;libatan pemerintah kelihatannya memiliki andil yang sangat kuat dan besar. Hal ini terbukti dengan adanya campur tangan pemerintah madrasah segera cepat tersebar dengan luas. Banyak saudagar, ulama ataupun yang lainnya yang mencoba mendirikan madrasah dengan model dan standart yang relative sama. Al-Azzawi mencatat bahwa pada zaman dinasti al-Saljuqy terdapat lebih dari tiga puluh madrasah yang didirikan mereka yang tidak memiliki kaitan dengan penguasa. Ahmad Syalabi[32] menyatakan lebih dari enam belas madrasah pada masa dinasti Ayyubiyyun yang didirikan oleh perorangan. Akan tetapi tiga diantaranya ada hubungannya dengan penguasa atau kekuasaan.
Madrasah ketika awal berdiri dalam sekian banyak aspek kehidupan masyarakat pada waktu itu, baik dari sisi religi social keagamaan, ekonomi, dan yang lainnya sangat memberikan kontribusi dan keuntungan yang banyak. Akan tetapi pada era modern eksistensinya masih dipertanyakan apabila kurikulumnya masih dimonopoli oleh ‘ulu>m al-naqliyyah(Islamic Sciences).
VII. Kemajuan atau motivator pendidikan pada masa Islam klasik
- Peran pemerintah selaku fasilitator, keterlibatan pemerintah dalam menetapkan tujuan-tujuannya, menggariskan kurikulum, memilih guru, dan memberikan dana yang teratur kepada madrasah. Selain itu madrasah merupakan lembaga resmi dari pemerintah yang menghasilkan karyawan-karyawan dan pegawai-pegawai pemerintah.
- Peran masyarakat sebagai penanggung jawab moral dalam keberhasilan system pengajaran. Kesadaran untuk menuntut ilmu pengetahuan di masyarakat Islam pada saat itu sangat besar. Hal ini terbukti dengan banyaknya peserta didik dan pendidik yang berkecimpung di dalam madrasah nidzhamiyyah.
VIII. Khatimah
Penulis dalam hal ini mencoba untuk memberikan kesimpulan dari apa-apa yang telah dipaparkan sekelumit, diantaranya :
- Pendidikan sebelum era Islam dan setelahnya sangatlah diperhatikan oleh masyarakat. Hal ini terbukti dengan adanya berbagai macam system pendidikan sebelum berdirinya madrasah
- Dengan berdirinya madrasah khususnya madrasah nidzhamiyyah, system pendidikan dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya semakin disempurnakan dan termanajemen secara teratur.
- Pada masa awal berdirinya madrasah ilmu yang diajarkan didalamnya hanya dimonopoli oleh ‘ulu>m al-naqliyyah, walaupun tidak menafikkan beberapa ilmu yang berkembang setelahnya.
- Banyak berdiri beberapa madrasah setelah Madrasah Nidzhamiyyah yang mengfokuskan pengajaran selain kepada ilmu Islam juga kepada beberapa ilmu yang berkaitan dengan sains(mis.: kedokteran) , sastra / kebudayaan, filsafat, dan lain sebagainya.
- Peran pemerintah dan masyarakat sangat mendominan dalam mendukung berkembang dan pesatnya pendidikan pada masa Islam klasik
- Beberapa lembaga pendidikan era modern diakui ataupun tidak, baik secara langsung atau tidak langsung banyak mengadopsi system manajemen pendidikan yang diprakarsai oleh madrasah.
Bibliografi
ü Abd al-‘Al, Hasan, al-Tarbiyyah al-Islamiyyah fi al-Qarn al-Rabi’ al-Hijriy, (Cairo : Dar al-Fikr al-‘Arabi, 1978)
ü ibn ‘Abdi Rabbihi al-Andalusy, Ahmad ibn Muhammad, Al-‘Iqdu al-Fari>d, Juz IV,(Beirut, Da>r al-Fikr, s.a)
ü Amin, Ahmad, D{uha> al-Isla>m,(Cairo : Maktabah al-Nahdhah al-Mishriyyah, 1973)
ü ‘Aboud, Abd al-ghaniy, Dirasa>t Muqa>ranah li> ta>ri>kh al-Tarbiyyah, (Cairo: ‘Alam al-Kutub, 1982)
ü Badawi, Abd al-Maji>d Abd al- Futu>h}, al-Ta>ri>kh al-Siyasi wa al-Fikri, (al-Mans{u>r: Mat}a>bi’ al-Wafa’ , 1988)
ü al-Biladzary , Futu>h al-Bulda>n, (Cairo : t.p, 1350 H)
ü Hassan, Hassan Muhammad dan Nadiyah jamaluddin, Mada>ris al-Tarbiya>t fi> al-Hadhara>t al-Islamiyyah (Cairo: Dar al-Fikr al-‘Arabiy, 1988)
ü al-Kayla>ni, Ma>jid ‘Irsa>n, Tat}awwur Mafhu>m al-Nazariyyah al-Tarbawiyyah, (Beirut : Da>r ibn Kathi>r, 1985)
ü Ibn Khaldun, al-Muqaddimah (Beirut: Da>r al-Fikr, s.a)
ü Makdisi, George, The Rise of Colleges: Institutions of Learning in Islam and the West (Edinburgh : Edinburgh University Press, 1981)
ü Maksum, Madrasah sejarah dan perkembangannya, (Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1987)
ü Al-Mawardi,al-Ahkam al-Sulthaniyyah(Beirut: Da>r al-Fikr, s.a)
ü Nasution, Harun, Teologi Islam : Aliran-aliran sejarah Analisa dan Perbandingan, (Jakarta : UI Press, 1996)
ü Al-Nawawi , Tahdzib al-Asma’ wa al-Rijal, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, s.a)
ü Syalaby, Ahmad, al-Tarbiyah al-Islamiyyah Nidzhamuha wa falsafatuha wa tarikhuha, cet. VII(Cairo : al-Maktabah al-Nahdhah al-Mishriyyah, 1982)
[1] Ahmad Syalaby, al-Tarbiyah al-Islamiyyah Nidzhamuha wa falsafatuha wa tarikhuha, cet. VII(Cairo : al-Maktabah al-Nahdhah al-Mishriyyah, 1982), 43
[2] Ibn Khaldun, al-Muqaddimah (Beirut: Dar al-Fikr, s.a), 293
[3] Ibid, 394
[4] Al-Biladzary , Futu>h al-Bulda>n, (Cairo : t.p, 1350 H), 457
[5] Al-Nawawi , Tahdzib al-Asma’ wa al-Lugha>t, (Beirut : Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, s.a) Juz I, 73
[6] al-Biladzary, Op.Cit, 147,359
[7] Ahmad Amin, D{uha al-Isla>m,(Cairo : Maktabah al-Nahdhah al-Mishriyyah, 1973) Juz II, 50
[8] Ibn al-Jawzy , Manaqib Baghdad, 26.
[9] Al-Mawardi,al-Ahkam al-Sulthaniyyah, 5
[10] Ahmad ibn Muhammad ibn ‘Abdi Rabbihi al-Andalusy, Al-‘Iqdu al-Fari>d, Juz IV,(Beirut, Dar al-Fikr, s.a) 101-108
[11] Ahmad Syalaby, al-Tarbiyyah …., 97, keberadaan riwayat ini penulis belum menemukan keotentikannya.
[12] Ringkasan dari Ahmad Syalabi, al-Tarbiyyah ……, 115
[13] George Makdisi, The Rise of Colleges: Institutions of Learning in Islam and the West ( Edinburgh : Edinburgh University Press, 1981), 27
[14] Idem, 56
[15] Ahmad Syalaby, al-Tarbiyyah ………., 116
[16] Abd al-Maji>d Abd al- Futu>h} Badawi, al-Ta>ri>kh al-Siyasi wa al-Fikri, (al-Mans{u>r: Mat}a>bi’ al-Wafa’ , 1988), 186. lihat pula dalam Maksum, Madrasah sejarah dan perkembangannya, (Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1987),62
[17] Maksum, Madrasah…., 62-63
[18] Makdisi, The Rise…., 35-40
[19] Nukilan dan ringkasan dari George Makdisi, The Rise….
[20] George Makdisi, …………, 92
[21] ibid
[22] Ibid, 93
[23] Ibid, 95
[24] Ibid, 96-98
[25] Ibid, 99-105
[26] Harun Nasution, Teologi Islam : Aliran-aliran sejarah Analisa dan Perbandingan, (Jakarta : UI Press, 1996), 1
[27] Ma>jid ‘Irsa>n al-Kayla>ni, Tat}awwur Mafhu>m al-Nazariyyah al-Tarbawiyyah, (Beirut : Da>r ibn Kathi>r, 1985), 103-128
[28] Hasan Abd al-‘Al, al-Tarbiyyah al-Islamiyyah fi al-Qarn al-Rabi’ al-Hijriy, (Cairo : Dar al-Fikr al-‘Arabi, 1978), 98-101
[29] Hassan Muhammad Hassan dan Nadiyah jamaluddin , Mada>ris al-Tarbiya>t fi> al-Hadhara>t al-Islamiyyah (Cairo: Dar al-Fikr al-‘Arabiy, 1988),18-105
[30] Ringkasan dan nukilan dari Maksum, Madrasah sejarah dan perkembangannya, (Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1987), 75-78
[31] Abd al-ghaniy ‘Aboud, Dirasa>t Muqa>ranah li> ta>ri>kh al-Tarbiyyah, (Cairo: ‘Alam al-Kutub, 1982), 233.
[32] Ahmad Syalabi, al-tarbiyyah ………., 123

Tidak ada komentar:
Posting Komentar