Asma wa Sifat Allah dan manhaj Ahlus Sunnah di dalam masalah ini.
I. Al-Asma’ wa al-Sifat Allah dalam tinjauan Aqidah Islam.
Keberadaan al-asma’ dan al-Sifat milik Allah adalah sangat agung kedudukannya di dalam agama Islam. Dimana keberadaan tersebut adalah sebagai salah satu asas pondasi Islam dalam masalah keimanan(aqidah) seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Keimanan kepada al-asma’ wa al-sifat (tauhid al-asma’ wa al-sifat) memiliki definisi yaitu beriman kepada nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya, sebagaimana yang diterangkan di dalam al-Quran dan Sunnah Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, menurut apa yang pantas bagi Allah SWT, tanpa adanya penyimpangan makna dari apa-apa yang dikehendaki oleh-Nya(seperti ta’wil, ta’thil , takyif , ataupun tahrif .). Pemahaman ini berdasarkan dari firman Allah ta’ala, yang artinya :
“Tiada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat”(Q.S. asy-Syura : 11).
Allah menafikkan jika ada sesuatu yang menyerupai diri-Nya, dan Dia menetapkan bahwa Dia adalah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat. Maka Dia diberi nama dan disifati dengan nama dan sifat yang Dia berikan untuk diri-Nya dalam kitrab-Nya dan dengan nama dan sifat yang diberikan oleh Rasul-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga dalam hal ini apa-apa yang bersumber dari al-Quran dan al-Sunnah tidak boleh dilanggar, karena tidak seorangpun yang lebih mengetahui tentang Allah daripada Allah sendiri. Serta tidak ada (-sesudah Allah) seorangpun yang lebih mengetahui tentang Allah daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Maka barangsiapa yang mengingkari nama-nama dan sifat-sifat Allah atau menamakan Allah dan mensifati-Nya dengan nama-nama dan sifat-sifat makhluq-Nya, atau menta’wilkan nama-nama dan sifat-sifat tersebut dari makna yang benar, maka sesungguhnya ia berbicara tentang Allah tanpa ilmu dan berdusta terhadap Allah dan rasul-Nya.
Allah berfirman yang artinya :
“Siapakah yang lebih Zhalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah ???”(Q.S. al-Kahfi : 15)
II. al-Asma’ al-Husna
Allah ta’ala berfirman, yang artinya:
“Hanya milik Allah al-asma’ al-husna, maka mohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma’ husna itu dan tinggalkannlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam menyebut nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa-apa yang telah mereka kerjakan”.(Q.S. al-A’raf : 180)
Dari ayat yang mulia diatas, ada beberapa hal yang dapat kita petik :
1. Menetapkan nama-nama untuk Allah ta’ala, maka barangsiapa yang menafikan nama-nama Allah tersebut berarti ia telah menafikan apa-apa yang telah ditetapkan oleh Allah sendiri, secara otomatis pula ia telah menentang Allah.
2. Bahwasanya asma’ Allah ta’ala semuanya adalah husna, maksudnya sangat baik. Karena ia mengandung makna dan sifat-sifat yang sempurna, tanpa adanya kekurangan dan cacat sedikitpun. Dan bukanlah nama-nama tersebut hanya sekedar nama-nama kosong semata tanpa memiliki makna dan arti.
3. Sesungguhya Alah memerintahkan berdoa dan ber-tawassul kepada-Nya dengan nama-nama-Nya. Maka dalam hal ini, menunjukkan keagungannya serta kecintaan Allah kepada doa yang disertai nama-nama-Nya.
4. Bahwasanya Allah ‘azza wa Jalla mengancam orang-orang yang ilhad dalam asma’-Nya dan Dia akan membalas perbuatan mereka yang buruk.
Diriwayatkan dalam tafsir ibnu Katsier bahwasanya pernah suatu ketika salah seorang musyrik mendengar doa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang mengucapkan dalam sujud beliau “Yaa Allah, yaa Rahman ..”. Maka orang tersebut berkata :”Sesungguhnya Muhammad mengaku hanya menyembah kepada satu Tuhan, sedangkan ia saat ini menyembah dua tuhan????”. Sehingga Allah menurunkan sebuah ayat dari al-Quran surat al-Isra’ : 110, yang artinya:
“Katakanlah! :’Serulah Allah atau serulah al-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al-asma’ al-husna(nama-nama yang terbaik)…..”
Sehingga dari kisah di atas dapat kita ambil hikmah bahwasanya Allah sangat menyukai apabila seorang hamba memohon kepada-Nya dengan seruan nama-nama yang Allah miliki sesuai dengan keinginan hamba tersebut. Dan seorang hamba dapat memilih diantara nama-nama tersebut yang ia suka, seperti dengan seruan “Yaa Allah,…yaa Rahman, yaa Ghaffar….” dan lain sebagainya. Hal ini menunjukkan akan tetapnya nama-nama Allah tersebut dan masing-masing dari nama Allah tersebut bisa digunakan sesuai dengan maqam dan suasananya, karena kesemuanya adalah husna.
Allah berfirman dalam surat yang lain yang artinya:
“Dialah Allah, tiada tuhan yang berhak untuk disembah melainkan Dia. Dia mempunyai al-asma’ al-husna”. (Q.S. Thaha : 8).
III. Kandungan al-Asma’ al-Husna
Nama-nama Allah yang mulia adalah bukan sekedar nama yang kosong dari makna dan sifat. Dari nama-nama Allah tersebut menunjukkan akan keagungan sifat yan dimiliki Allah dan kemuliaan nama yang dimiliki-Nya. Setiap nama menunjukkan akan sifat yang terkandung didalamya. Sebagaimana nama Allah al-Rahman dan al-Rahim, kedua nama ini menunjukkan akan sifat rahmah(kasih sayang), al-Sami’ dan al-Bashir, dua nama ini menunjukkan sifat mendengar dan melihat. al-‘Alim menunjukkan akan sebuah sifat ilmu yang tiada terkira luasnya. Al-Karim menunjukkan sifat karam(mulia dan dermawan). Al-Khaliq menunjukkan Dia adalah Zat yang menciptakan, dan al-Razzaaq menunjukkan Dia memberi rizqi dengan jumlah yang sangat banyak. Begitulah seterusnya, setiap nama dari nama-nama-Nya menunjukkan sifat dari sifat-sifat-Nya.
Syaikh al-Islam Al-Imam ibnu Taimiyyah mengatakan : “Setiap nama dari nama-nama-Nya menunjukkan kepada Dzat yang disebutnya dan sifat yang dikandungnya, seperti al-’Alim menunjukkan Dzat dan ilmu, al-Qadir menunjukkan Dzat dan qudrah(kekuasaan), al-Rahim menunjukkan Dzat dan sifat Rahmat…”
Al-Imam ibnu Qayyim al-Jauziah pernah mengatakan :
“Nama-nama Rabb Subhanahu wa ta’ala menunjukkan sifat-sifat kesempurnaan-Nya, karena nama-nama tersebut di ambil dari sifat-sifat-Nya. Jadi ia adalah nama sekaligus sifat dan karena itulah ia menjadi husna. Sebab andaikata ia hanyalah lafadz-lafadz yang tidak memiliki makna maka tentunya tidak akan disebut husna, juga tidak menunjukkan pujian dan kesempurnaan. Jika demikian tentu diperbolehkan meletakkan nama intiqam(balas dendam) dan ghadhab(marah) pada tempat rahmat dan ihsan, atau sebaliknya. Sehingga boleh dikatakan : “Yaa Allah sesungguhnya aku telah menzalimi diri saya sendiri, maka ampunilah aku, karena sesungguhnya Engkau adalah al-Muntaqim(Maha membalas Dendam). Yaa Allah anugerahilah aku, karena Engkau adalah adh-Dharr(Yang Maha Memberi Mudharat) dan al-Mani’(Yang Maha Menolak)……”dan yang semacamnya. Lagipula kalau tidak menunjukkan arti dan sifat, tentu tidak diperbolehkan memberi kabar dengan masdar-masdarnya dan tidak boleh menyifati dengannya. Tetapi kenyataannya Allah sendiri telah mengabarkan tentang diri-Nya dengan masdar-masdar-Nya dan menetapkan untuk diri-Nya dan telah ditetapkan oleh Rasul-Nya untuk-Nya, sebagaimana dalam sebuah ayat dijelaskan, yang artinya:
“Sesungguhnya Allah Dialah Maha pemberi Rizqi Yang mempunyai kekuatan lagi Sangat Kokoh”.(Q.S. Al-Dzariyat : 58).
Dari sini diketahui bahwa al-Qawiy adalah salah satu nama-nama-Nya yang memiliki makna “Dia Yang memiliki Kekuatan”. Demikian halnya dengan firman-Nya yang lain :
“…Maka bagi Allah lah kemuliaan itu semuanya…” (Q.S. al-Fathir : 10).
Al-‘Aziz adalah “Yang memiliki Izzah(kemuliaan)”. Seandainya tidak memiliki kekuatan dan izzah (kemuliaan) maka tidak boleh dinamakan al-Aziz dan al-Qawiy. Demikian penjelasan ibnu Qayyim al-Jauziah .
IV. Penjelasan tentang sebagian sifat-sifat Allah.
Sifat-sifat yang disebutkan Allah tentang diri-Nya ada dua macam sifat; Sifat Tsubutiyyah dan Sifat Salbiyyah.
Sifat Tsubutiyyah adalah setiap sifat yang ditetapkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla untuk Diri-Nya di dalam al-Quran ataupun yang melalui sabda Rasulullah . Sifat-sifat ini adalah sifat kesempurnaan, tidak menunjukkan sama sekali cela ataupun kekurangan. Sifat Tsubutiyyah ini terbagi menjadi dua bagian :
Bagian pertama adalah sifat dzatiyah, yaitu sifat yang senantiasa melekat dengan-Nya Sifat ini tidak terpisah dari Dzat-Nya. Seperti (القدرة) Maha Berkuasa. Dalam sekian banyak ayat al-Quran dijelaskan perihal sifat al-Qudrah ini sebagaimana dalam contoh berikut:
“….dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (Q.S. al-Maaidah : 120)
”Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu”. (Q.S al-Baqarah : 20)
”Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya : ‘Jadilah, maka terjadilah ia ”. (Q.S. Yasin : 82)
Maka seluruh makhluq-Nya, baik yang di atas maupun yang di bawah, menunjukkan kesempurnaan qudrah-Nya yang menyeluruh. Tidak ada satupun partikel yang dapat keluar dari-Nya. Dan sangat cukuplah menjadi dalil bagi seorang hamba manakala ia melihat kepada penciptaan dirinya, bagaimanakah Allah menciptakannya dalam bentuk yang paling baik, membelah baginya pendengaran dan pengelihatannya, menciptakan sepasang mata untuknya, sebuah lisan dan sepasang bibir. Kemudian apabila ia melayangkan pandangannya ke seluruh jagad raya ini maka ia akan melihat berbagai keajaiban qudrah-Nya yang menunjukkan akan keagungan-Nya. Dan sifat Allah yang lain sebagainya.
Bagian kedua adalah sifat fi’liyyah, yaitu sifat yang Allah perbuat jika berkehendak. Seperti bersemayam di atas ‘Arsy, turun ke langit dunia ketika tinggal sepertiga akhir dari malam, dan datangnya Dia pada hari kiamat. Banyak dari sifat Allah pada bagian kedua ini diingkari oleh sebagian kaum muslimin yang cenderung mengedepankan akal mereka di atas nash(dalil) baik itu dari al-Quran ataupun hadits yang shahih.
Di dalam al-Quran al-Karim, Allah telah mengabarkan akan bersemayamnya diri-Nya di atas ‘Arsy. Ada tujuh ayat di berbagai surat dalam al-Quran yang menjelaskannya. Sebagaimana dalam surat al-A’raf :
“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy ”.(Q.S. al-A’raf : 54).
Pada surat Yunus:
”Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy “.(Q.S. Yunus : 3)
dan pada surat yang lainnya seperti (Q.S. ar-Ra’d : 2), (Q.S. Thaha : 5), (Q.S. al-Furqan : 59), (Q.S. al-Sajdah : 4), dan (Q.S. al-Hadid : 4).
Dalam ketujuh ayat di atas lafadz istiwa’ datang dalam bentuk dan lafadz yang sama. Maka hal ini menyatakan bahwa yang dimaksudkan adalah maknanya yang hakiki yang tidak menerima ta’wil, yaitu ketinggian dan keluhuran-Nya di atas ‘Arsy .
‘Arsy dalam tinjauan etimologi Bahasa Arab adalah singgasana untuk raja, akan tetapi yang dimaksudkan dengan ‘Arsy di sini adalah singgasana yang memiliki beberapa kaki yang dipikul oleh para malaikat-Nya , ia merupakan atap bagi semua makhluq. Dan bersemayamnya Allah di atasnya ialah yang sesuai dengan keagungan-Nya. Kita tidak mengetahui kaifiyah(cara)-nya, sebagaimana kaifiyah sifat-sifat-Nya yang lain. Akan tetapi kita hanya menetapkannya sesuai dengan apa yang kita fahami dari maknanya dalam Bahasa Arab, sebagaimana sifat-sifat lainnya.
Sifat Salbiyyah adalah setiap sifat yang dinafi’kan (ditiadakan) Allah ‘Azza wa Jalla bagi Diri-Nya melalui al-Quran ataupun sabda Rasul-Nya . Dan seluruh sifat ini adalah sifat kekurangan dan tercela bagi Allah, contohnya : maut(mati tidak hidup), naum(tidur), jahl(bodoh), nisyan(kelupaan), ‘ajz(kelemahan), ta’ab(lelah dan capek),dan lain-lainnya. Sifat-sifat tersebut wajib dinafi’kan dari Allah Ta’ala berdasarkan keterangan di atas, dengan disertai penetapan sifat kebalikannya secara lebih sempurna. Sebagai contoh permisalan, menafi’kan maut(mati) dan naum(tidur), berarti menetapkan kebalikannya bahwa Allah adalah Dzat yang Maha Hidup dengan sempurna. Menafi’kan jahl(bodoh), berarti menetapkan bahwa Allah adalah Dzat yang Maha Mengetahui dengan ilmu-ilmu-Nya yang sempurna.
V. Apakah al-asma’ al-husna terikat dengan bilangan tertentu?
Asma’(nama-nama) Allah tidak terikat dengan bilangan tertentu, hal ini adalah berdasarkan riwayat Rasulullah dalam sebuah hadits yang masyhur :
أَسْأَلُكَ بِكُلَّ اْسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ أَنْـزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ , أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ , أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ .
“Aku memohon kepada-Mu dengan seluruh nama-nama-Mu, yang telah Engkau namakan untuk diri-Mu, atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau ajarkan kepada seseorang diantara makhluq-Mu, atau masih dalam rahasia Ghaib pada-Mu yang hanya Engkau sendiri mengetahuinya”. (H.S.R. Ahmad, ibnu Hibban dan al-Hakim).
Padahal sesuatu yang masih dalam rahasia ghaib dan hanya diketahui oleh Allah semata tidak mungkin dapat dihitung atau diketahui dengan pasti oleh seseorang. Mungkin dalam sebagian pemahaman masyarakat muslimin akan bertanya-tanya tentang keberadaan sebuah riwayat yang masyhur dan disandarkan pengucapan riwayat tersebut kepada Rasulullah yang berbunyi :
إِنَّ ِللهِ تِسْعَةُ وَتِسْعِيْنَ اِسْماً , مِائَةً إِلاَّ وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Sesungguhnya ada bagi Allah sembilan puluh sembilan(99) asma(nama), seratus kurang satu, yang barang siapa dapat menghitungnya akan masuk sorga”.
Ada sebuah penjelasan yang cukup bisa menjawab permasalahan di atas, al-Imam asy-Syaikh Muhammad ibn Shalih al-Utsaimin-rahimahullah- menjelaskan:
“Hadits di atas tidak menunjukkan bahwa asma Allah hanya sejumlah 99 ini saja. Andaikata maksud hadits ini demikian tentu susunan redaksi kalimatnya adalah sebagai berikut :
إِنَّ أَسْمَاءَ اللهِ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ اِسْماً , مِائَةً إِلاَّ وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Sesungguhnya asma’ Allah ada sembilan puluh sembilan(99) asma(nama), seratus kurang satu, yang barang siapa dapat menghitungnya akan masuk sorga”.
Karena pengertian riwayat di atas yaitu bahwa sembilan puluh sembilan asma’ ini diantara yang menghafal dan menghitungnya akan masuk ke dalam surga. Hal in disebabkan karena susunan kalimat “man ahshaaha dakhala al-jannah” merupakan kalimat pelengkap , dan bukan kalimat terpisah yang berdiri sendiri. Sebagai contoh seperti ini bila ada Anda mengatakan : ’’Saya punya uang 100 dirham yang saya persiapkan untuk sedekah ’’, yang mungkin dalam hal ini memiliki arti bisa saja Anda memiliki dirham-dirham lain yang tidak Anda persiapkan untuk bersedekah.
Dan sesunguhnya tidak benar adanya penyusunan asma Allah tersebut berasal dari Nabi , dan riwayat yang berkenaan dengan hal ini adalah lemah(dha’if) . Demikian penjelasan beliau –rahimahullah- secara ringkas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar